Rabu, 10 Juli 2013

CERITA CINTA SINTA....

Dewi Sinta, menjalani penantian datangnya sang kekasih Sri Rama, yang tak kunjung datang juga....

Mas-Mas dan Mbak-Mbak sahabat kinasih saya,

Setelah terjadinya drama 'Rahwana cintanya hanya untuk Sinta', yang menggegerkan dunia 'kangouw' (persilatan), ini saya kirimkan satu lagi copy dari puisi karya Mbak Dorothea Rosa Herliany, yang besar kemungkinan akan membuat sekumpulan sahabat saya menjadi kebakaran jenggot. Tapi seperti kata saya sebelumnya, mohon dengen amat dari pada sangat, supaya jangan membaca dengan rasa emosional. Dengan kepala dinginlah, dan ini yang menulis kan seorang wanita lo. Jadi, bacalah dengen perlahan-lahan saja, lima kilometer per jam saja. Selamat menikmatinya....


ELEGI SINTA
Oleh: Dorothea Rosa Herliany

Aku sinta yang urung membakar diri,
Demi darah suci,

Bagi lelaki paling pengecut bernama Rama,
Lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam,
Agar hangat gelora cintaku,
Tumbuh di padang pendakian yang paling hina.

Kuburu Rahwana,
Dan kuminta ia menyetubuhi nafasku,
Menuju kehampaan langit,
Kubiarkan terbang, agar tangan yang takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.

Siapa bilang cintaku putih?
Mungkin abu,
Atau bahkan segelap hidupku,
Tapi dengarlah ringkikku yang indah,
Menggosongkan segala yang keramat dan abadi.

Kuraih hidupku, tidak dalam api,
Rumah bagi para pendosa,
Tapi dalam kesunyian yang sia-sia dan papa,
Agar sejarahku terpisah dari para penakut dan pendusta, 
Rama ....



_________________________________________________________________

Lalu, di bawah ini saya tambahkan kutipan dari tulisan/ulasan Mas Jrink (Jum'at, 15 Februari 2013), tentang tokoh Sinta ini...

 Tokoh Sinta memang dapat dikatakan sebagai tokoh sentral dalam epos besar Ramayana karena ia adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

“…. Jika Rama mengasingkan diri ke hutan, itu juga berlaku untuk Sinta. Sinta adalah bagian dari Rama. Aku akan berjalan di depanmu. Akan kubuka dan kupersiapkan jalan supaya kau bisa berjalan dengan nyaman. Jangan menganggapku kepala batu. Ayahanda dan ibunda mendidikku dengan dharma. Apa yang kau katakan bertentangan sepenuhnya dengan apa yang mereka ajarkan. Satu-satunya jalan yang terbentang di depanku adalah bersamamu ke mana pun kakimu melangkah…”  (Rajagopalachari, 2008: 126).

Pada kutipan di atas terlihat Rajagopalachari menggambarkan Sinta sebagai perempuan yang setia. Kebanyakan orang yang tahu atau pernah membaca kisah Ramayana akan berpendapat kurang lebih sama seperti Rajagopalachari atau bahkan Walmiki yang menggambarkan Sinta sebagai sosok yang setia.

Namun tidak bagi Dorothea Rosa Herliany, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, dan Soni Farid Maulana. Para penyair ini berusaha menampilkan perspektif mereka tentang Sinta. Sinta yang tidak melulu hadir sebagai perempuan setia dan taat kepada suami tetapi juga sebagai perempuan yang berani menentukan nasibnya sendiri.

Secara tegas Dorothea membuka puisinya Elegi Sinta dengan penolakan Sinta untuk melompat ke dalam api. Tidak hanya menolak, Sinta juga memaki Rama sebagai “lelaki yang paling pengecut” dan “para penakut dan pendusta”. Kemarahan besar menjadi hal wajar bagi seorang perempuan yang telah bersungguh-sungguh setia. Akan tetapi, kesetiaan itu justru diragukan oleh laki-laki yang untuknya ia setia.

Kuburu rahwana,Dan kuminta ia menyetubuhi nafaskuMenuju kehampaan langitKubiarkan terbang, agar tangan yangtakut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.(Elegi Sinta-Dorothea Rossa Herliany)

Sinta bahkan lebih memilih Rahwana untuk menyetubuhinya daripada ia harus kembali ke tangan Rama. Sinta ingin membiarkan keraguan Rama padanya benar-benar menjadi nyata. Sebuah pengakuan juga terlontar dari seorang Sinta tentang cintanya yang abu, cinta yang tak sepenuhnya putih. Dorothea memperjelas kesedihan Sinta dengan menggunakan kata “elegi” pada judul puisinya. Menggunakan kata elegi yang berarti syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pd peristiwa kematian) saya pikir telak merepresentasikan ungkapan dukacita Sinta.

Terbebas juga akhirnya aku-Entah dari cakar garudaAtau lengan Dasamuka.Sendiri,di menara tinggi,kusaksikan di ataslangityang tak luntur dingin-birunya;dan di bawahapiyang disulut Rama –berkobar bagi rindu abadi.(Sita Sihir-Sapardi Djoko Damono)

Sapardi memberikan awal yang baik bagi Sita karena ia dapat bebas baik dari cakar garuda yang ingin menyelamatkannya maupun dari Dasamuka (sebutan lain Rahwana). Namun, setelah itu ia menggambarkan Sita yang baru saja merasakan sedikit kebebasan untuk selanjutnya merasakan kesendirian. Rama seakan tidak sabar untuk melihat Sita melompat dari atas menara. Menurutnya hanya dengan cara itu kesucian atau kemurnian Sita dapat kembali. Terungkap keinginan Sita untuk bebas pula dari sihir Rama. Sihir yang memaksanya tunduk pada keraguan Rama. Keraguan yang kemudian membawanya ke menara tinggi menghampiri kesendirian.

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. “Tetapi Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga yang membenihimu, apakah…” Sita yang hamil itu tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para dewa. (Benih-Sapardi Djoko Damono)

Benih karya Sapardi yang mengangkat fragmen Rama mempertanyakan kehamilan Sinta membingungkan karena sebuah pernyataan Rama bahwa Sinta adalah ‘benih’ alias anak dari Rahwana. Jika Rama sudah mengetahui hal ini mengapa ia harus menaruh curiga terhadap Rahwana yang sebenarnya adalah ayah Sita sendiri. Namun kecurigaan itu tetap muncul. Dalam pernyataannya itu Rama masih tetap berpikir bahwa Rahwana lah yang menghamili Sita.

Sita diungkapkan Sapardi diam seribu bahasa. Ia seakan menerima pernyataan Rama atau memang ia sudah mengetahui bahwa Rahwana adalah ayahnya. Sapardi menuntaskan puisi ini dalam ke’diam’an Sita yang mencoba berpikir apa kehendak dewa atas dirinya.

Momen Sita berada di tengah kobaran api digunakan Subagio Sastrowardoyo untuk menyampaikan pandangannya tentang Sita. Entah mengapa Subagio memberi judul Asmaradana yang sepengetahuan saya adalah tembang/macapat Jawa yang menceritakan kisah cinta sedih antara Anjasmara dan Damarwulan. Kisah cinta antara Rama dan Sinta dengan kisah cinta antara Anjasmara dan Damarwulan memang sama-sama mengalami akhir yang sedih. Keduanya tidak dapat merasakan akhir yang indah dari sebuah kisah cinta.

Ironi yang diciptakan Subagio mengejutkan dan mendobrak citra Sita selama ini. Dengan jelas Subagio menuliskan bahwa Sita menyukai kejantanan Rahwana. Hubungan intim penuh berahi pun tidak dapat dihindari. Tidak pernah ada rasa bersalah dan berdosa pada diri Sita karena telah melakukan hal itu. Hanya “sekadar menurutkan naluri”. Sebagai perempuan yang normal tentu saja hasrat bersetubuh ketika melihat laki-laki yang jantan muncul secara alami. Ini juga yang terjadi pada Sita saat melihat Rahwana. Sedikit menarik kaitannya dengan Hawa, ia pula yang tidak dapat menahan nafsu melihat buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat kemudian mengajak serta Adam memakannya1. Sifat perempuan seperti ini lah yang diangkat dalam puisi Asmaradana ini. Tanpa beban Sita melompat ke dalam api karena memang merasa sudah tidak suci lagi.

Pada geliat sekarat terlompat doaJangan juga hangus dalam apiSisa mimpi dari sanggama(Asmaradana-Subagio Sastrowardoyo)

Selanjutnya Subagio menutup puisi ini dengan doa singkat Sita yang sekarat dalam kobaran api. Doa yang masih meminta agar nikmat dari persetubuhannya dengan Rahwana tidak turut terbakar dalam kobaran api. Penggambaran Sita yang benar-benar berbeda telah dilakukan Subagio.

Soni Farid mempunyai gambaran tersendiri mengenai Sita. Serupa dengan Subagio, Soni mengungkapkan bahwa Sita jatuh cinta kepada Rahwana. Perbedaannya terletak pada cinta yang dirasakan Sita. Dalam Asmaradana jelas sekali bahwa cinta itu sekadar nafsu , sekadar pemuas birahi Sita sedangkan dalam Sita Obong cinta Sita adalah cinta yang tulus. Mengapa tulus? Bagaimana tidak seorang perempuan rela lompat ke dalam api hanya untuk cintanya. Sita terkapar di ranjang juga karena cintanya pada Rahwana.

Demikian senja turun dan Sita terkaparDi ranjang. Walau begitu jangan kau tanyaMengapa semua ini terjadi;Pada kobaran api yang menyala di tegalan,(Sita Obong-Soni Farid)

Sita menegaskan pula pada Rama agar jangan bertanya mengapa ia bisa jatuh cinta pada Rahwana. Soni menekankan cinta Sita kepada Rahwana pada bagian akhir dengan mengungkapkan ketidakmengertian Hanoman tentang bagaimana cinta dapat membuat orang rela mati karenanya (karena cinta).

Penyair Indonesia dapat dengan bebas mengubah atau melakukan modifikasi terhadap sebuah epos besar (dalam hal ini Ramayana) sesuai perspektif mereka masing-masing. Dengan begitu pembaca juga dapat dengan bebas pula menafsirkan dan mengintepretasi sebuah karya sastra.

Dewi Sinta, cantik, manja, dan membuat Rama dan Rahwana jatuh hati.


Sinta-Sinta abad duapuluh satu! Centil, cantik, sexy, dan gaya. Jadi pantas saja Rahwana dan Rama jatuh hati setengah mati....