Rabu, 10 Juli 2013

SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 2)

Srikandhi telah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang mempesona. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, wajahnya yang selalu cantik dan penuh ceria, selalu membuat para pria terpesona saat mereka memandangnya.

Sang Sasadara telah menyinarkan cahaya purnamanya ke angkasa luas. Cahayanya bersinar keemasan di antara mega-mega, seakan hendak menyampaikan tarian cerita sendu. Bias cahayanya, berpendar-pendar menyeruak di antara gumpalan awan yang berjalan perlahan dengan enggan. Sepasang burung malam, tampak terbang berputaran dengan cekatan, saling menyambar di atas angkasa malam Pancala Radya, bagaikan menarikan bias kehidupan manusia di alam janaloka. Lalu, dari kejauhan, terdengar samar-samar terbawa sang Samirana, tembang Kidung Kinanthi dinyanyikan para pradangga danwaranggana, meniti lembut nada-nada Ketawang Pangarum-arum, melantunkan cerita-cerita parwa yang menyayat hati, bercerita tentang hidup dan perjalanan manusia, saat gamelan ditabuh memainkan rangkaian Talu yang menyentuh pagelaran agung kehidupan anak-anak manusia. Bercerita tentang hidup dan mati. Tentang kelahiran dan kematian. Tentang kemegahan dan kesengsaraan. Tentang cinta dan kesedihan. Tentang 'sangkan paraning dumadi'  manusia, yang pada suatu ketika nanti pasti akan 'bali mulih mring mula-mulanya' (kembali pulang ke asal mulanya).  Tentang kesendirian, yang membuat siapapun yang mendengarnya akan terketuk relung hatinya dan meneteskan air mata. Maka Talu-pun dimulai, menceritakan berbagai peristiwa kehidupan Sang Srikandhi, putri Pancala Radya....


Wus munya gangsa ing dalu,
Angelangut gya rinukmi,
Tembanging carita parwa,
Ngarum-arum wanci ratri,
Rinengga wulan kartika,
Heneng hana hanawengi.
Wus munya gangsa gya Talu,
Suluk myang tembang respati,
Ginawa Sang Samirana,
Kidung kandha jroning ratri,
Angidung lakoning jalma,
Sesuluh laku utami. [1]


Sang Srikandhi diam termenung di malam itu. Gelisah perasaannya. Berita-berita tentang para kerabat Pandhawa yang diusir dari Hastina-Pura oleh para kerabat Kurawa, telah sampai pula di telinganya. Berita-berita tentang peristiwa pengusiran kerabat Pandhawa itu, setiap hari memenuhi halaman depan koran dan televisi Pancala Radya dan berita-berita itu selalu menjadi 'headline' yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar dan mencolok, disertai dengan ulasan, bahasan, dan cerita; yang hampir semuanya menyalahkan dan memojokkan para kerabat Pandhawa, akibat peri-lakunya kalah berjudi melawan para kerabat Kurawa. Miris hatinya, jika merasakan bagaimana sekelompok kerabat ksatria itu diperlakukan secara nista dan hina. Tetapi saat membaca banyak berita itu, Srikandhi juga bisa merasakan, menimbang, serta membuat kesimpulan; bahwa segala peristiwa itu sebenarnya dimulai dari kebodohan para kerabat Pandhawa sendiri, yang menerima begitu saja tantangan berjudi dari para kerabat Kurawa, tanpa tahu bahwa sebagian besar dari lawannya itu terkenal sebagai penjudi ulung yang licik. 

Srikandhi, sebenarnya tidaklah begitu kenal dengan para kerabat Pandhawa itu. Tetapi berita-berita yang sangat gencar dan membanjirinya setiap saat, membuatnya sedikit-banyak terpengaruh juga. Timbul rasa kasihan setiap kali melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan bagaimana para kerabat Pandhawa itu diolok-olok, direndahkan, dan dihinakan martabatnya secara keterlaluan oleh para kerabat Kurawa. Para kerabat Pandhawa itu, diusir dan diperlakukan seakan seperti segerombolan anjing kurap saja. Martabatnya direndahkan sedemikian rupa, sehingga mereka dianggap tak perlu diperlakukan sebagai manusia. Benar-benar keterlaluan.....

Myat langening kalagyan,
Aglar pandham muncar....[2]

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan warsa demi warsa; berlalu begitu saja tak terasakan. Begitu lama berlalu, sehingga akhirnya berita tentang kerabat para Pandhawa itu hilang ditelan waktu. Seakan mereka lenyap dan musnah dari muka bumi. Semua kehidupan, seakan kembali seperti awal mulanya. Begitu pula Sang Srikandhi, kembali kepada kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan berbagai kegiatan seperti dulu. Tak terasakan, waktu telah berlalu begitu lama, dan Sang Srikandhi telah menjelma menjadi seorang putri remaja yang dewasa. Tubuhnya yang semampai, dengan perawakan tegak tinggi bagaikan seorang ksatria, tampil dengan berbagai kepandaian dan kelincahan dalam berolah diri. Sahabat-sahabatnya yang dulunya menjulukinya sebagai 'si pembuat onar', telah lama mengganti julukannya menjadi 'si jelita dari Pancala Radya'. Julukan ini, kelihatan memang lebih cocok untuk Sang Srikandhi yang sudah mulai menginjak dewasa dan seringkali tampil lebih lembut, meskipun masih juga kelihatan 'tomboy'. 

Hari itu, Sang Srikandhi nan jelita baru pulang dari sebuah kuliah 'stadium generale', yang membahas tentang 'ksatria dan perannya dalam bela negara'. Kuliah umum seperti ini, sangat disukai Sang Srikandhi. Ia merasakan, bagaimana darahnya menggelegak, emosinya tersulut, dan semangatnya terbakar; saat mendengar kuliah yang dibawakan sangat berapi-api oleh seorang pejabat tinggi negara Kerajaan Pancala Radya, yang diundang secara khusus untuk memberikan kuliah, dalam rangka menanamkan rasa nasionalisme dan bela negara. Sambil berjalan keluar dari ruang kuliah umum, Sang Srikandhi berbincang riuh penuh semangat dengan sejumlah sahabatnya. Suaranya yang merdu, terdengar melengking nyaring, sesekali diseling dengan derai tawanya yang khas. Meskipun Sang Srikandhi merupakan putri seorang raja, tetapi saat berjalan bersama-sama dengan para sahabatnya, ia sama sekali tak terlihat canggung, dan sama sekali tak terlihat seperti layaknya seorang putri pemilik negeri Pancala Radya. Ia bahkan terlihat seperti remaja biasa, yang penuh dengan idealisme. Mungkin, hal ini juga ditunjang pakaian sehari-harinya yang cenderung terlihat praktis, seperti pakaian pria saja. Celana panjang jeans berwarna biru tua, dengan kaos berlengan pendek warna putih, yang di bagian depannya ada tulisan 'We love our country', seakan hendak menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembela negeri Pancala Radya. Memakai sepatu 'lars' yang tingginya hampir selutut, dengan 'hak' yang agak tinggi, membuat dirinya terlihat semakin anggun saja. Bunyi langkah dan sepatunya yang beradu dengan ubin, menghasilkan bunyi ritmis, yang membuat semua orang berada di sekitarnya menoleh kagum kepada Sang Srikandhi yang cantik, sexy, dan penuh pesona.

Di dekat pintu gerbang keluar, Sang Srikandhi berhenti sejenak, dan dengan diring senyum manisnya yang sangat khas, ia berpamitan kepada sahabat-sahabatnya. Lalu, melambaikan tangannya kepada sahabat-sahabatnya, sambil mengucap: "See you tomorrow...."  Kemudian Sang Srikandhi berjalan menuju para pengawal pribadinya yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang depan kampus Universitas Negeri Pancala Radya. Dengan sedikit tergesa-gesa, para pengawal pribadinya itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang putri naik. Pintu mobil sudah ditutup rapat, dan para pengawal sudah pula duduk di mobil. Dan, perjalanan pulang pun dimulailah.

Di dalam mobil, seperti biasa pula Sang Srikandhi bertanya kepada komandan satuan pengawal pribadinya: "Pak..., nggak lupa membelikan minuman kaleng kesukaan saya?" Dengan cepat, komandan satuan pengawal pribadi membuka kulkas yang ada di dalam mobil, lalu mengambil minuman kaleng kesukaan Sang Srikandhi dan menyorongkannya kepada sang putri setelah membukakan tutupnya. "Terima-kasih Pak", Srikandhi menerima minuman kaleng dan langsung menenggaknya beberapa teguk.

"Eh...., Pak komandan, hari ini ada berita apa dari istana?" tanya Srikandhi tiba-tiba kepada komandan satuan pengawal pribadinya, setelah beberapa lama mereka berdiam diri saja. "Nggak ada berita penting kok Mbak Srikandhi. Cuma ayahanda tadi sempat menelepon saya. Kata beliau, Mbak Srikandhi kalau sudah sampai di istana diminta menghadap ayahanda. Cuma itu saja berita dari istana Mbak," jawab komandan satuan pengawal pribadi itu.  "Ada apa ya? Kok agak nggak biasanya, ayah ingin saya menghadap," tanya Sang Srikandhi sambil agak mengernyitkan dahinya.
"Waaaah, saya nggak tahu Mbak. Nanti aja ditanyakan langsung kepada ayahanda."

Dialog itu terhenti, saat mobil mulai memasuki halaman istana, lalu berbelok ke arah samping bangunan istana. Tepat di depan pintu samping istana, mobil berhenti. Para pengawal pribadi segera membuka pintu mobil dan meloncat keluar, lalu segera membuka pintu tempat duduk Sang Srikandhi.

"Silahkan Mbak...." kata pengawal pribadi yang membukakan pintu mobilnya.
"Terima-kasih Mas" jawab Srikandhi kepada pengawal pribadinya.

Srikandhi dengan anggun lalu berjalan perlahan menuju ruang ayahandanya, diiring sejumlah pengawal pribadinya. Di benaknya tersusun sejumlah pertanyaan: "Mengapa ayahanda memanggilku?" Sesampai di depan pintu ruang ayahandanya, para pengawal pribadinya melapor kepada pengawal istana, dan memberitahukan bahwa Sang Srikandhi sudah sampai dan hendak menghadap ayahandanya. Pengawal istana yang menerima laporan itu, segera masuk melapor. Beberapa saat kemudian pengawal istana itu keluar dan mempersilahkan Sang Srikandhi masuk ke ruang istana ayahandanya.

Di ruang istana ayahandanya itu, bunyi langkah Sang Srikandhi yang memakai sepatu 'lars' berhak tinggi itu terdengar bergema ritmis di ruang istana yang luas dan indah. Dari kejauhan Sang Drupada, melambaikan tangannya kepada Srikandhi dan menyapanya: "Hei Srikandhi putriku yang cantik! Ke sinilah, ayah ingin mengatakan sesuatu kepadamu!"
"Ya ayah", jawab Srikandhi sambil mendatangi ayahandanya dan kemudian mencium tangan kanannya, sambil agak membongkokkan badannya. "Ke sinilah putriku. Duduklah yang nyaman. Ayah mempunyai berita bagus untukmu. Dengarkan ya..."

Drupada lalu menceritakan kepada Srikandhi, tentang adanya penerimaan pegawai baru di kalangan istana. Dan, khusus untuk Srikandhi dan sejumlah putri istana, Drupada mengatakan bahwa ia telah membuat suatu keputusan untuk menerima seorang instruktur, yang akan bertugas melatih mereka menari dan bela diri. Menurut Drupada, hal ini didasarkan kepada kebisaan pelamar, yang setelah diwawancara dan diuji oleh para pejabat tinggi istana, ternyata memenuhi dua unsur itu. Dengan cermat Srikandhi mendengarkan ayahandanya berbicara. Ia tak berkata sepatah katapun. Hanya saja, ia merasa sangat heran, mengapa instruktur yang ditugaskan melatih dirinya adalah seorang pria. Di kalangan istana Pancala Radya, khususnya untuk kebutuhan keputrian, selama ini belum pernah ada pria yang ditugaskan di sana. Jadi, jika benar instrukturnya kali ini adalah seorang pria, maka hal ini akan merupakan peristiwa pertama kali di Pancala Radya. Rupanya, apa yang menjadi pertanyaan di dalam hati Srikandhi itu, tertangkap juga oleh Drupada.

Sesekali, Sang Srikandhi menyenangkan dirinya bermain dan bercengkerama di pantai Pancala Radya...


"Begini Srikandhi...., ayah tahu perasaanmu yang sedikit galau dan heran, begitu mendengar intsruktur baru yang ditugaskan melatih dirimu dan sejumlah putri istana di keputren itu adalah seorang pria. Kan biasanya, instruktur untuk urusan keputren Pancala Radya, diserahkan kepada wanita. Tapi, ayah kemarin sudah bertemu orangnya. Memang benar dia seorang pria, tetapi peri-lakunya seperti wanita. Dia itu kaum 'shemale'. Memang ayah merasa sedikit aneh juga, karena dia mengatakan pandai menari dan awalnya dia memang melamar sebagai instruktur tari. Ayah lalu ingat, guru tarimu yang sejak beliau meninggal, tidak ada gantinya. Seingat ayah, banyak orang yang melamar untuk menjadi pengganti gurumu itu, tetapi rupanya tidak ada yang mampu menggantikannya. Hla kemarin itu, ayah sudah melihat sebentar dan selintas. Memang belum bisa dikatakan melihat seluruh kemampuannya, tapi paling tidak dari gerak oleh tari yang sempat diperagakan sebentar, ayah bisa membuat kesimpulan, bahwa dia memang benar-benar penari yang sangat mumpuni. Dan, setelah melihat dia memperagakan kebiasaannya, ayah lalu memutuskan untuk menunjuk dia sebagai instruktur untuk mengajar tari di keputren Pancala Radya. Ya..... karena dia kaum 'shemale', maka ayah berpendapat dia sama sekali tidak berbahaya bagi putri-putriku. Dan lagi, kaum shemale itu hanya tertarik kepada pria, dan sama sekali tidak tertarik kepada wanita." Sang Drupada bercerita panjang lebar tentang instruktur tari yang baru saja diangkat dan ditugasinya.

Srikandhi yang enerjik, telah berubah menjadi wanita dewasa yang mempesona....

Sejenak berhenti bercerita, Drupada lalu melanjutkan: "O ya..... Srikandhi...., ayah hampir lupa, nama instruktur barumu itu Kandhi-Awan. Tolong diingat ya, namanya Kandi-Awan. Nanti, kalau dia mulai bertugas tolong hormati dia selayaknya seorang guru dan instruktur, dan jangan sekali-kali engkau meledek atau mempermainkan dirinya ya. Jangan gara-gara dia termasuk kaum shemale, lalu engkau meledeknya atau mempermainkannya. Jangan sekali-kali melakukan hal itu ya....! Ingat baik-baik ya nasehat ayah yang satu ini! Jangan sampai engkau menyinggung perasaannya! Ayah serius lo soal yang satu ini. Bukannya apa-apa, engkau selama ini terkenal sebagai putriku yang nakal, bengal, suka membuat onar, suka berkelahi, dan setiap kali para pengawal pribadimu data melapor ke ayah, setiap kali pula sebenarnya ayah merasakan pusing tujuh keliling memikirkan ulah dirimu," begitu kata-kata nasehat Drupada secara 'khusus' kepada Srikandhi putri kesayangannya itu. 


Mendengar penuturan ayahandanya, raut muka Sang Srikandhi lalu berubah menjadi sedikit cemberut. Dan, dengan manja dan dengan gaya sedikit merajuk, Srikandhi mengatakan kepada ayahandanya: "Ayaaaaah....., jangan begitu doooong. Kan Srikandhi selama ini sudah banyak berubah. Masak ayah nggak tahu? Berkelahi yaaaa masih terjadi sesekali sih, tapi kan sudah jaraaaaaaang sekali. Yang diingat ayah itu kok cuma yang buruk-buruk saja. Aneh sekali! Padahal, Srikandhi sudah banyak berubah hlo. Coba dong lihat nilai ujian semua mata-kuliah yang diambil Srikandhi belakangan ini. Angkanya tinggi-tinggi kan.... Yang diingat ayah tentang Srikandhi, kok cuma yang jelek-jeleknya aja sih? Coba dong lihat Srikandhi dari sisi baiknya juga.......," kata Srikandhi nerocos, seperti mau menasehati ayahandanya.

Drupada ayahandanya tersenyum dan menimpali kata-kata putrinya: "Eeeee Srikandhi....., bukannya ayah tidak tahu perkembangan dirimu. Tapi semua itu kan fakta semata? Selama ini engkau kan memang terkenal sebagai 'trouble maker' di kalangan keputren. Ha ha ha ha."  Sang Drupada tertawa terkekeh-kekeh. "Reputasimu itu lo, kan sudah sangat terkenal di berbagai kalangan. Mungkin sudah tidak terhitung lagi peristiwa yang melibatkan dirimu. Sesekali ayahmu ini tercengang-cengang melihat dirimu di tayangan stasiun TV Pancala Radya, yang memperlihatkan engkau baku hantam dengan sejumlah pria bergajulan. Memang engkau seringkali menang berkelahi. Tapi mbok coba dibayangkan ta. Engkau ini anak siapa? Apa engkau sama sekali nggak memikirkan dampak negatifnya? Apa jadinya jika setiap hari TV Pancala Radya isi berita dan tayangannya cuma adegan perkelahian Srikandhi......?"

Seperti layaknya seorang wanita yang mulai menapak masa dewasa, impi-mimpi Srikandhi juga mulai mengembara jauh ke relung-relung kehidupan yang berbunga-bunga...

Lalu, setelah menghela nafas sejenak, Drupada melanjutkan: "Jangan dikira ayahmu ini nggak memikirkan lo. Coba bayangkan, putri seorang raja besar Pancala Radya, tiap hari beritanya masuk TV gara-gara membuat onar dan berkelahi. Ha ha ha ha..... Cobalah engkau pikirkan, apa yang harus ayah katakan, jika ada wartawan yang iseng menanyakan soal ini? Memangnya ayah harus mengatakan bahwa putri ayah yang satu ini memang ditakdirkan jadi 'trouble maker' dan pembuat onar? Kasihan dong sama para pejabat humas istana, yang setiap kali mendengar engkau membuat ulah, kan mereka juga yang kusut dan harus menghadapi wartawan pada waktu terjadi 'press conference'. Sementara engkau? Menghilang lenyap tak berbekas, bak ditelan bumi! Ha ha ha ha...." terbahak-bahak Sang Drupada....

Mendengar penuturan ayahandanya itu, makin cemberutlah muka Srikandhi. Lalu dengan menyorongkan mukanya yang manja, ia menimpali: "Ayaaaaah......, kan Srikandhi yang sekarang sudah banyak berubah! Srikandhi janji deh, nggak akan membuat ulah dan onar lagi. Srikandhi sekarang, kan sudah dewasa dan sudah jadi anak gadis yang pintar, baik hati, dan tidak sombong....." Begitu kata Srikandhi dengan manja sejadi-jadinya kepada ayahandanya.

Masih dengan senyum lebar, Sang Drupada berkata: "Iyaaaaa.... iyaaa, Srikandhi. Ayah percaya, sekarang engkau sudah banyak berubah, dan katamu sekarang sudah menjadi anak yang baik dan tidak sombong. Anak yang baik? Tidak sombong? Tapi sejak kapan itu? Ha ha ha ha," kembali meledak gelak tawa terbahak-bahak Sang Drupada, terdengar nyaring memenuhi ruang istana yang luas itu.

Lama sekali bapak dan anak itu berbincang berdua tentang berbagai hal di ruang istana yang lengang dan sepi itu. Tak terasa hari sudah menjelang sore. Sambil bergandeng tangan, keduanya berjalan perlahan-lahan masuk menuju ruang dalam istana. Sang Respati sudah berada jauh di ufuk barat. Sisa-sisa sinarnya cemerlang memancar bagaikan lajur-lajur emas bercahaya menjulur di antara awan-awan yang berjalan perlahan, semakin lama semakin redup, sampai akhirnya berubah menjadi malam. Perlahan-lahan Sang Sasadara yang sedang purnama timbul, melayang di angkasa Pancala Radya, bagaikan sang dewi malam. Haripun berubah menjadi malam. Hamparan jutaan kartika perlahan-lahan membuai angkasa raya, berkedip-kedip seakan hendak bercerita tentang perjalanan jutaan manusia di alam janaloka.

Di tempat peraduannya, Sang Srikandhi tiduran sambil termenung memandang bintang-bintang di angkasa. Bayangannya melayang pada peristiwa pertemuannya dengan ayahandanya siang tadi. Dia merasa tidak seperti biasanya ayahandanya memperhatikan dirinya seperti itu. Rasanya itu merupakan pertemuan dirinya dengan ayahnya yang paling lama. Biasanya ayahnya hanya meluangkan waktu sebentar saja dengan dirinya. Biasanya ayahandanya hanya bertanya tentang beberapa hal kecil, yang menurutnya tidak penting. Menanyakan angka-angka hasil ujian, merupakan salah satu pertanyaan klise yang paling sering diajukan. Dan, ia selalu menjawab juga dengan jawaban klise juga. "Nggak ada masalah ayah.... everything under control...." Itu merupakan jawaban yang paling sering ia gunakan untuk menjawab pertanyaan ayahandanya. Tapi kali ini, ayahandanya seakan benar-benar meluangkan waktu khusus untuk dirinya.

Malam semakin larut, Sang Srikandhi akhirnya tertidur lelap dengan mimpi-mimpi indah yang melayangkan cerita berbagai peristiwa menakjubkan yang dialaminya. Di bibirnya, tersungging senyum. Selimut yang menutupi tubuhnya, seakan melenyapkan seluruh kehidupan hari itu dan menyimpannya di awan dan bintang-bintang malam. Sebuah perjalanan malam penuh mimpi dimulai.........


____________________________

[1] Terjemahan bebas:

Telah berbunyi gamelan di malam hari,
Lembut mengalun bagai tersusun,
Nyanyian cerita lama,
Mengharumkan suasana malam,
Berhiaskan bulan dan bintang-bintang,
Sunyi sepi di malam hari.

Telah berbunyi gamelan hendak segera melagukan Talu,
Nyanyian suluk dan tembang nan indah,
Terbawa oleh samirana (angin),
Nanyian pembawa cerita di malam hari,
Menyanyikan perjalanan manusia,
Menjadi penerang peri-laku utama. 

[2] Terjemahan bebas:

Maka dimulailah peristiwa yang menawan hati,
Tergelar menyebar luas bias cahayanya....