Rabu, 10 Juli 2013

SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 2)

Srikandhi telah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang mempesona. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, wajahnya yang selalu cantik dan penuh ceria, selalu membuat para pria terpesona saat mereka memandangnya.

Sang Sasadara telah menyinarkan cahaya purnamanya ke angkasa luas. Cahayanya bersinar keemasan di antara mega-mega, seakan hendak menyampaikan tarian cerita sendu. Bias cahayanya, berpendar-pendar menyeruak di antara gumpalan awan yang berjalan perlahan dengan enggan. Sepasang burung malam, tampak terbang berputaran dengan cekatan, saling menyambar di atas angkasa malam Pancala Radya, bagaikan menarikan bias kehidupan manusia di alam janaloka. Lalu, dari kejauhan, terdengar samar-samar terbawa sang Samirana, tembang Kidung Kinanthi dinyanyikan para pradangga danwaranggana, meniti lembut nada-nada Ketawang Pangarum-arum, melantunkan cerita-cerita parwa yang menyayat hati, bercerita tentang hidup dan perjalanan manusia, saat gamelan ditabuh memainkan rangkaian Talu yang menyentuh pagelaran agung kehidupan anak-anak manusia. Bercerita tentang hidup dan mati. Tentang kelahiran dan kematian. Tentang kemegahan dan kesengsaraan. Tentang cinta dan kesedihan. Tentang 'sangkan paraning dumadi'  manusia, yang pada suatu ketika nanti pasti akan 'bali mulih mring mula-mulanya' (kembali pulang ke asal mulanya).  Tentang kesendirian, yang membuat siapapun yang mendengarnya akan terketuk relung hatinya dan meneteskan air mata. Maka Talu-pun dimulai, menceritakan berbagai peristiwa kehidupan Sang Srikandhi, putri Pancala Radya....


Wus munya gangsa ing dalu,
Angelangut gya rinukmi,
Tembanging carita parwa,
Ngarum-arum wanci ratri,
Rinengga wulan kartika,
Heneng hana hanawengi.
Wus munya gangsa gya Talu,
Suluk myang tembang respati,
Ginawa Sang Samirana,
Kidung kandha jroning ratri,
Angidung lakoning jalma,
Sesuluh laku utami. [1]


Sang Srikandhi diam termenung di malam itu. Gelisah perasaannya. Berita-berita tentang para kerabat Pandhawa yang diusir dari Hastina-Pura oleh para kerabat Kurawa, telah sampai pula di telinganya. Berita-berita tentang peristiwa pengusiran kerabat Pandhawa itu, setiap hari memenuhi halaman depan koran dan televisi Pancala Radya dan berita-berita itu selalu menjadi 'headline' yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar dan mencolok, disertai dengan ulasan, bahasan, dan cerita; yang hampir semuanya menyalahkan dan memojokkan para kerabat Pandhawa, akibat peri-lakunya kalah berjudi melawan para kerabat Kurawa. Miris hatinya, jika merasakan bagaimana sekelompok kerabat ksatria itu diperlakukan secara nista dan hina. Tetapi saat membaca banyak berita itu, Srikandhi juga bisa merasakan, menimbang, serta membuat kesimpulan; bahwa segala peristiwa itu sebenarnya dimulai dari kebodohan para kerabat Pandhawa sendiri, yang menerima begitu saja tantangan berjudi dari para kerabat Kurawa, tanpa tahu bahwa sebagian besar dari lawannya itu terkenal sebagai penjudi ulung yang licik. 

Srikandhi, sebenarnya tidaklah begitu kenal dengan para kerabat Pandhawa itu. Tetapi berita-berita yang sangat gencar dan membanjirinya setiap saat, membuatnya sedikit-banyak terpengaruh juga. Timbul rasa kasihan setiap kali melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan bagaimana para kerabat Pandhawa itu diolok-olok, direndahkan, dan dihinakan martabatnya secara keterlaluan oleh para kerabat Kurawa. Para kerabat Pandhawa itu, diusir dan diperlakukan seakan seperti segerombolan anjing kurap saja. Martabatnya direndahkan sedemikian rupa, sehingga mereka dianggap tak perlu diperlakukan sebagai manusia. Benar-benar keterlaluan.....

Myat langening kalagyan,
Aglar pandham muncar....[2]

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan warsa demi warsa; berlalu begitu saja tak terasakan. Begitu lama berlalu, sehingga akhirnya berita tentang kerabat para Pandhawa itu hilang ditelan waktu. Seakan mereka lenyap dan musnah dari muka bumi. Semua kehidupan, seakan kembali seperti awal mulanya. Begitu pula Sang Srikandhi, kembali kepada kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan berbagai kegiatan seperti dulu. Tak terasakan, waktu telah berlalu begitu lama, dan Sang Srikandhi telah menjelma menjadi seorang putri remaja yang dewasa. Tubuhnya yang semampai, dengan perawakan tegak tinggi bagaikan seorang ksatria, tampil dengan berbagai kepandaian dan kelincahan dalam berolah diri. Sahabat-sahabatnya yang dulunya menjulukinya sebagai 'si pembuat onar', telah lama mengganti julukannya menjadi 'si jelita dari Pancala Radya'. Julukan ini, kelihatan memang lebih cocok untuk Sang Srikandhi yang sudah mulai menginjak dewasa dan seringkali tampil lebih lembut, meskipun masih juga kelihatan 'tomboy'. 

Hari itu, Sang Srikandhi nan jelita baru pulang dari sebuah kuliah 'stadium generale', yang membahas tentang 'ksatria dan perannya dalam bela negara'. Kuliah umum seperti ini, sangat disukai Sang Srikandhi. Ia merasakan, bagaimana darahnya menggelegak, emosinya tersulut, dan semangatnya terbakar; saat mendengar kuliah yang dibawakan sangat berapi-api oleh seorang pejabat tinggi negara Kerajaan Pancala Radya, yang diundang secara khusus untuk memberikan kuliah, dalam rangka menanamkan rasa nasionalisme dan bela negara. Sambil berjalan keluar dari ruang kuliah umum, Sang Srikandhi berbincang riuh penuh semangat dengan sejumlah sahabatnya. Suaranya yang merdu, terdengar melengking nyaring, sesekali diseling dengan derai tawanya yang khas. Meskipun Sang Srikandhi merupakan putri seorang raja, tetapi saat berjalan bersama-sama dengan para sahabatnya, ia sama sekali tak terlihat canggung, dan sama sekali tak terlihat seperti layaknya seorang putri pemilik negeri Pancala Radya. Ia bahkan terlihat seperti remaja biasa, yang penuh dengan idealisme. Mungkin, hal ini juga ditunjang pakaian sehari-harinya yang cenderung terlihat praktis, seperti pakaian pria saja. Celana panjang jeans berwarna biru tua, dengan kaos berlengan pendek warna putih, yang di bagian depannya ada tulisan 'We love our country', seakan hendak menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembela negeri Pancala Radya. Memakai sepatu 'lars' yang tingginya hampir selutut, dengan 'hak' yang agak tinggi, membuat dirinya terlihat semakin anggun saja. Bunyi langkah dan sepatunya yang beradu dengan ubin, menghasilkan bunyi ritmis, yang membuat semua orang berada di sekitarnya menoleh kagum kepada Sang Srikandhi yang cantik, sexy, dan penuh pesona.

Di dekat pintu gerbang keluar, Sang Srikandhi berhenti sejenak, dan dengan diring senyum manisnya yang sangat khas, ia berpamitan kepada sahabat-sahabatnya. Lalu, melambaikan tangannya kepada sahabat-sahabatnya, sambil mengucap: "See you tomorrow...."  Kemudian Sang Srikandhi berjalan menuju para pengawal pribadinya yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang depan kampus Universitas Negeri Pancala Radya. Dengan sedikit tergesa-gesa, para pengawal pribadinya itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang putri naik. Pintu mobil sudah ditutup rapat, dan para pengawal sudah pula duduk di mobil. Dan, perjalanan pulang pun dimulailah.

Di dalam mobil, seperti biasa pula Sang Srikandhi bertanya kepada komandan satuan pengawal pribadinya: "Pak..., nggak lupa membelikan minuman kaleng kesukaan saya?" Dengan cepat, komandan satuan pengawal pribadi membuka kulkas yang ada di dalam mobil, lalu mengambil minuman kaleng kesukaan Sang Srikandhi dan menyorongkannya kepada sang putri setelah membukakan tutupnya. "Terima-kasih Pak", Srikandhi menerima minuman kaleng dan langsung menenggaknya beberapa teguk.

"Eh...., Pak komandan, hari ini ada berita apa dari istana?" tanya Srikandhi tiba-tiba kepada komandan satuan pengawal pribadinya, setelah beberapa lama mereka berdiam diri saja. "Nggak ada berita penting kok Mbak Srikandhi. Cuma ayahanda tadi sempat menelepon saya. Kata beliau, Mbak Srikandhi kalau sudah sampai di istana diminta menghadap ayahanda. Cuma itu saja berita dari istana Mbak," jawab komandan satuan pengawal pribadi itu.  "Ada apa ya? Kok agak nggak biasanya, ayah ingin saya menghadap," tanya Sang Srikandhi sambil agak mengernyitkan dahinya.
"Waaaah, saya nggak tahu Mbak. Nanti aja ditanyakan langsung kepada ayahanda."

Dialog itu terhenti, saat mobil mulai memasuki halaman istana, lalu berbelok ke arah samping bangunan istana. Tepat di depan pintu samping istana, mobil berhenti. Para pengawal pribadi segera membuka pintu mobil dan meloncat keluar, lalu segera membuka pintu tempat duduk Sang Srikandhi.

"Silahkan Mbak...." kata pengawal pribadi yang membukakan pintu mobilnya.
"Terima-kasih Mas" jawab Srikandhi kepada pengawal pribadinya.

Srikandhi dengan anggun lalu berjalan perlahan menuju ruang ayahandanya, diiring sejumlah pengawal pribadinya. Di benaknya tersusun sejumlah pertanyaan: "Mengapa ayahanda memanggilku?" Sesampai di depan pintu ruang ayahandanya, para pengawal pribadinya melapor kepada pengawal istana, dan memberitahukan bahwa Sang Srikandhi sudah sampai dan hendak menghadap ayahandanya. Pengawal istana yang menerima laporan itu, segera masuk melapor. Beberapa saat kemudian pengawal istana itu keluar dan mempersilahkan Sang Srikandhi masuk ke ruang istana ayahandanya.

Di ruang istana ayahandanya itu, bunyi langkah Sang Srikandhi yang memakai sepatu 'lars' berhak tinggi itu terdengar bergema ritmis di ruang istana yang luas dan indah. Dari kejauhan Sang Drupada, melambaikan tangannya kepada Srikandhi dan menyapanya: "Hei Srikandhi putriku yang cantik! Ke sinilah, ayah ingin mengatakan sesuatu kepadamu!"
"Ya ayah", jawab Srikandhi sambil mendatangi ayahandanya dan kemudian mencium tangan kanannya, sambil agak membongkokkan badannya. "Ke sinilah putriku. Duduklah yang nyaman. Ayah mempunyai berita bagus untukmu. Dengarkan ya..."

Drupada lalu menceritakan kepada Srikandhi, tentang adanya penerimaan pegawai baru di kalangan istana. Dan, khusus untuk Srikandhi dan sejumlah putri istana, Drupada mengatakan bahwa ia telah membuat suatu keputusan untuk menerima seorang instruktur, yang akan bertugas melatih mereka menari dan bela diri. Menurut Drupada, hal ini didasarkan kepada kebisaan pelamar, yang setelah diwawancara dan diuji oleh para pejabat tinggi istana, ternyata memenuhi dua unsur itu. Dengan cermat Srikandhi mendengarkan ayahandanya berbicara. Ia tak berkata sepatah katapun. Hanya saja, ia merasa sangat heran, mengapa instruktur yang ditugaskan melatih dirinya adalah seorang pria. Di kalangan istana Pancala Radya, khususnya untuk kebutuhan keputrian, selama ini belum pernah ada pria yang ditugaskan di sana. Jadi, jika benar instrukturnya kali ini adalah seorang pria, maka hal ini akan merupakan peristiwa pertama kali di Pancala Radya. Rupanya, apa yang menjadi pertanyaan di dalam hati Srikandhi itu, tertangkap juga oleh Drupada.

Sesekali, Sang Srikandhi menyenangkan dirinya bermain dan bercengkerama di pantai Pancala Radya...


"Begini Srikandhi...., ayah tahu perasaanmu yang sedikit galau dan heran, begitu mendengar intsruktur baru yang ditugaskan melatih dirimu dan sejumlah putri istana di keputren itu adalah seorang pria. Kan biasanya, instruktur untuk urusan keputren Pancala Radya, diserahkan kepada wanita. Tapi, ayah kemarin sudah bertemu orangnya. Memang benar dia seorang pria, tetapi peri-lakunya seperti wanita. Dia itu kaum 'shemale'. Memang ayah merasa sedikit aneh juga, karena dia mengatakan pandai menari dan awalnya dia memang melamar sebagai instruktur tari. Ayah lalu ingat, guru tarimu yang sejak beliau meninggal, tidak ada gantinya. Seingat ayah, banyak orang yang melamar untuk menjadi pengganti gurumu itu, tetapi rupanya tidak ada yang mampu menggantikannya. Hla kemarin itu, ayah sudah melihat sebentar dan selintas. Memang belum bisa dikatakan melihat seluruh kemampuannya, tapi paling tidak dari gerak oleh tari yang sempat diperagakan sebentar, ayah bisa membuat kesimpulan, bahwa dia memang benar-benar penari yang sangat mumpuni. Dan, setelah melihat dia memperagakan kebiasaannya, ayah lalu memutuskan untuk menunjuk dia sebagai instruktur untuk mengajar tari di keputren Pancala Radya. Ya..... karena dia kaum 'shemale', maka ayah berpendapat dia sama sekali tidak berbahaya bagi putri-putriku. Dan lagi, kaum shemale itu hanya tertarik kepada pria, dan sama sekali tidak tertarik kepada wanita." Sang Drupada bercerita panjang lebar tentang instruktur tari yang baru saja diangkat dan ditugasinya.

Srikandhi yang enerjik, telah berubah menjadi wanita dewasa yang mempesona....

Sejenak berhenti bercerita, Drupada lalu melanjutkan: "O ya..... Srikandhi...., ayah hampir lupa, nama instruktur barumu itu Kandhi-Awan. Tolong diingat ya, namanya Kandi-Awan. Nanti, kalau dia mulai bertugas tolong hormati dia selayaknya seorang guru dan instruktur, dan jangan sekali-kali engkau meledek atau mempermainkan dirinya ya. Jangan gara-gara dia termasuk kaum shemale, lalu engkau meledeknya atau mempermainkannya. Jangan sekali-kali melakukan hal itu ya....! Ingat baik-baik ya nasehat ayah yang satu ini! Jangan sampai engkau menyinggung perasaannya! Ayah serius lo soal yang satu ini. Bukannya apa-apa, engkau selama ini terkenal sebagai putriku yang nakal, bengal, suka membuat onar, suka berkelahi, dan setiap kali para pengawal pribadimu data melapor ke ayah, setiap kali pula sebenarnya ayah merasakan pusing tujuh keliling memikirkan ulah dirimu," begitu kata-kata nasehat Drupada secara 'khusus' kepada Srikandhi putri kesayangannya itu. 


Mendengar penuturan ayahandanya, raut muka Sang Srikandhi lalu berubah menjadi sedikit cemberut. Dan, dengan manja dan dengan gaya sedikit merajuk, Srikandhi mengatakan kepada ayahandanya: "Ayaaaaah....., jangan begitu doooong. Kan Srikandhi selama ini sudah banyak berubah. Masak ayah nggak tahu? Berkelahi yaaaa masih terjadi sesekali sih, tapi kan sudah jaraaaaaaang sekali. Yang diingat ayah itu kok cuma yang buruk-buruk saja. Aneh sekali! Padahal, Srikandhi sudah banyak berubah hlo. Coba dong lihat nilai ujian semua mata-kuliah yang diambil Srikandhi belakangan ini. Angkanya tinggi-tinggi kan.... Yang diingat ayah tentang Srikandhi, kok cuma yang jelek-jeleknya aja sih? Coba dong lihat Srikandhi dari sisi baiknya juga.......," kata Srikandhi nerocos, seperti mau menasehati ayahandanya.

Drupada ayahandanya tersenyum dan menimpali kata-kata putrinya: "Eeeee Srikandhi....., bukannya ayah tidak tahu perkembangan dirimu. Tapi semua itu kan fakta semata? Selama ini engkau kan memang terkenal sebagai 'trouble maker' di kalangan keputren. Ha ha ha ha."  Sang Drupada tertawa terkekeh-kekeh. "Reputasimu itu lo, kan sudah sangat terkenal di berbagai kalangan. Mungkin sudah tidak terhitung lagi peristiwa yang melibatkan dirimu. Sesekali ayahmu ini tercengang-cengang melihat dirimu di tayangan stasiun TV Pancala Radya, yang memperlihatkan engkau baku hantam dengan sejumlah pria bergajulan. Memang engkau seringkali menang berkelahi. Tapi mbok coba dibayangkan ta. Engkau ini anak siapa? Apa engkau sama sekali nggak memikirkan dampak negatifnya? Apa jadinya jika setiap hari TV Pancala Radya isi berita dan tayangannya cuma adegan perkelahian Srikandhi......?"

Seperti layaknya seorang wanita yang mulai menapak masa dewasa, impi-mimpi Srikandhi juga mulai mengembara jauh ke relung-relung kehidupan yang berbunga-bunga...

Lalu, setelah menghela nafas sejenak, Drupada melanjutkan: "Jangan dikira ayahmu ini nggak memikirkan lo. Coba bayangkan, putri seorang raja besar Pancala Radya, tiap hari beritanya masuk TV gara-gara membuat onar dan berkelahi. Ha ha ha ha..... Cobalah engkau pikirkan, apa yang harus ayah katakan, jika ada wartawan yang iseng menanyakan soal ini? Memangnya ayah harus mengatakan bahwa putri ayah yang satu ini memang ditakdirkan jadi 'trouble maker' dan pembuat onar? Kasihan dong sama para pejabat humas istana, yang setiap kali mendengar engkau membuat ulah, kan mereka juga yang kusut dan harus menghadapi wartawan pada waktu terjadi 'press conference'. Sementara engkau? Menghilang lenyap tak berbekas, bak ditelan bumi! Ha ha ha ha...." terbahak-bahak Sang Drupada....

Mendengar penuturan ayahandanya itu, makin cemberutlah muka Srikandhi. Lalu dengan menyorongkan mukanya yang manja, ia menimpali: "Ayaaaaah......, kan Srikandhi yang sekarang sudah banyak berubah! Srikandhi janji deh, nggak akan membuat ulah dan onar lagi. Srikandhi sekarang, kan sudah dewasa dan sudah jadi anak gadis yang pintar, baik hati, dan tidak sombong....." Begitu kata Srikandhi dengan manja sejadi-jadinya kepada ayahandanya.

Masih dengan senyum lebar, Sang Drupada berkata: "Iyaaaaa.... iyaaa, Srikandhi. Ayah percaya, sekarang engkau sudah banyak berubah, dan katamu sekarang sudah menjadi anak yang baik dan tidak sombong. Anak yang baik? Tidak sombong? Tapi sejak kapan itu? Ha ha ha ha," kembali meledak gelak tawa terbahak-bahak Sang Drupada, terdengar nyaring memenuhi ruang istana yang luas itu.

Lama sekali bapak dan anak itu berbincang berdua tentang berbagai hal di ruang istana yang lengang dan sepi itu. Tak terasa hari sudah menjelang sore. Sambil bergandeng tangan, keduanya berjalan perlahan-lahan masuk menuju ruang dalam istana. Sang Respati sudah berada jauh di ufuk barat. Sisa-sisa sinarnya cemerlang memancar bagaikan lajur-lajur emas bercahaya menjulur di antara awan-awan yang berjalan perlahan, semakin lama semakin redup, sampai akhirnya berubah menjadi malam. Perlahan-lahan Sang Sasadara yang sedang purnama timbul, melayang di angkasa Pancala Radya, bagaikan sang dewi malam. Haripun berubah menjadi malam. Hamparan jutaan kartika perlahan-lahan membuai angkasa raya, berkedip-kedip seakan hendak bercerita tentang perjalanan jutaan manusia di alam janaloka.

Di tempat peraduannya, Sang Srikandhi tiduran sambil termenung memandang bintang-bintang di angkasa. Bayangannya melayang pada peristiwa pertemuannya dengan ayahandanya siang tadi. Dia merasa tidak seperti biasanya ayahandanya memperhatikan dirinya seperti itu. Rasanya itu merupakan pertemuan dirinya dengan ayahnya yang paling lama. Biasanya ayahnya hanya meluangkan waktu sebentar saja dengan dirinya. Biasanya ayahandanya hanya bertanya tentang beberapa hal kecil, yang menurutnya tidak penting. Menanyakan angka-angka hasil ujian, merupakan salah satu pertanyaan klise yang paling sering diajukan. Dan, ia selalu menjawab juga dengan jawaban klise juga. "Nggak ada masalah ayah.... everything under control...." Itu merupakan jawaban yang paling sering ia gunakan untuk menjawab pertanyaan ayahandanya. Tapi kali ini, ayahandanya seakan benar-benar meluangkan waktu khusus untuk dirinya.

Malam semakin larut, Sang Srikandhi akhirnya tertidur lelap dengan mimpi-mimpi indah yang melayangkan cerita berbagai peristiwa menakjubkan yang dialaminya. Di bibirnya, tersungging senyum. Selimut yang menutupi tubuhnya, seakan melenyapkan seluruh kehidupan hari itu dan menyimpannya di awan dan bintang-bintang malam. Sebuah perjalanan malam penuh mimpi dimulai.........


____________________________

[1] Terjemahan bebas:

Telah berbunyi gamelan di malam hari,
Lembut mengalun bagai tersusun,
Nyanyian cerita lama,
Mengharumkan suasana malam,
Berhiaskan bulan dan bintang-bintang,
Sunyi sepi di malam hari.

Telah berbunyi gamelan hendak segera melagukan Talu,
Nyanyian suluk dan tembang nan indah,
Terbawa oleh samirana (angin),
Nanyian pembawa cerita di malam hari,
Menyanyikan perjalanan manusia,
Menjadi penerang peri-laku utama. 

[2] Terjemahan bebas:

Maka dimulailah peristiwa yang menawan hati,
Tergelar menyebar luas bias cahayanya....


CERITA CINTA SINTA....

Dewi Sinta, menjalani penantian datangnya sang kekasih Sri Rama, yang tak kunjung datang juga....

Mas-Mas dan Mbak-Mbak sahabat kinasih saya,

Setelah terjadinya drama 'Rahwana cintanya hanya untuk Sinta', yang menggegerkan dunia 'kangouw' (persilatan), ini saya kirimkan satu lagi copy dari puisi karya Mbak Dorothea Rosa Herliany, yang besar kemungkinan akan membuat sekumpulan sahabat saya menjadi kebakaran jenggot. Tapi seperti kata saya sebelumnya, mohon dengen amat dari pada sangat, supaya jangan membaca dengan rasa emosional. Dengan kepala dinginlah, dan ini yang menulis kan seorang wanita lo. Jadi, bacalah dengen perlahan-lahan saja, lima kilometer per jam saja. Selamat menikmatinya....


ELEGI SINTA
Oleh: Dorothea Rosa Herliany

Aku sinta yang urung membakar diri,
Demi darah suci,

Bagi lelaki paling pengecut bernama Rama,
Lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam,
Agar hangat gelora cintaku,
Tumbuh di padang pendakian yang paling hina.

Kuburu Rahwana,
Dan kuminta ia menyetubuhi nafasku,
Menuju kehampaan langit,
Kubiarkan terbang, agar tangan yang takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.

Siapa bilang cintaku putih?
Mungkin abu,
Atau bahkan segelap hidupku,
Tapi dengarlah ringkikku yang indah,
Menggosongkan segala yang keramat dan abadi.

Kuraih hidupku, tidak dalam api,
Rumah bagi para pendosa,
Tapi dalam kesunyian yang sia-sia dan papa,
Agar sejarahku terpisah dari para penakut dan pendusta, 
Rama ....



_________________________________________________________________

Lalu, di bawah ini saya tambahkan kutipan dari tulisan/ulasan Mas Jrink (Jum'at, 15 Februari 2013), tentang tokoh Sinta ini...

 Tokoh Sinta memang dapat dikatakan sebagai tokoh sentral dalam epos besar Ramayana karena ia adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

“…. Jika Rama mengasingkan diri ke hutan, itu juga berlaku untuk Sinta. Sinta adalah bagian dari Rama. Aku akan berjalan di depanmu. Akan kubuka dan kupersiapkan jalan supaya kau bisa berjalan dengan nyaman. Jangan menganggapku kepala batu. Ayahanda dan ibunda mendidikku dengan dharma. Apa yang kau katakan bertentangan sepenuhnya dengan apa yang mereka ajarkan. Satu-satunya jalan yang terbentang di depanku adalah bersamamu ke mana pun kakimu melangkah…”  (Rajagopalachari, 2008: 126).

Pada kutipan di atas terlihat Rajagopalachari menggambarkan Sinta sebagai perempuan yang setia. Kebanyakan orang yang tahu atau pernah membaca kisah Ramayana akan berpendapat kurang lebih sama seperti Rajagopalachari atau bahkan Walmiki yang menggambarkan Sinta sebagai sosok yang setia.

Namun tidak bagi Dorothea Rosa Herliany, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, dan Soni Farid Maulana. Para penyair ini berusaha menampilkan perspektif mereka tentang Sinta. Sinta yang tidak melulu hadir sebagai perempuan setia dan taat kepada suami tetapi juga sebagai perempuan yang berani menentukan nasibnya sendiri.

Secara tegas Dorothea membuka puisinya Elegi Sinta dengan penolakan Sinta untuk melompat ke dalam api. Tidak hanya menolak, Sinta juga memaki Rama sebagai “lelaki yang paling pengecut” dan “para penakut dan pendusta”. Kemarahan besar menjadi hal wajar bagi seorang perempuan yang telah bersungguh-sungguh setia. Akan tetapi, kesetiaan itu justru diragukan oleh laki-laki yang untuknya ia setia.

Kuburu rahwana,Dan kuminta ia menyetubuhi nafaskuMenuju kehampaan langitKubiarkan terbang, agar tangan yangtakut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.(Elegi Sinta-Dorothea Rossa Herliany)

Sinta bahkan lebih memilih Rahwana untuk menyetubuhinya daripada ia harus kembali ke tangan Rama. Sinta ingin membiarkan keraguan Rama padanya benar-benar menjadi nyata. Sebuah pengakuan juga terlontar dari seorang Sinta tentang cintanya yang abu, cinta yang tak sepenuhnya putih. Dorothea memperjelas kesedihan Sinta dengan menggunakan kata “elegi” pada judul puisinya. Menggunakan kata elegi yang berarti syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pd peristiwa kematian) saya pikir telak merepresentasikan ungkapan dukacita Sinta.

Terbebas juga akhirnya aku-Entah dari cakar garudaAtau lengan Dasamuka.Sendiri,di menara tinggi,kusaksikan di ataslangityang tak luntur dingin-birunya;dan di bawahapiyang disulut Rama –berkobar bagi rindu abadi.(Sita Sihir-Sapardi Djoko Damono)

Sapardi memberikan awal yang baik bagi Sita karena ia dapat bebas baik dari cakar garuda yang ingin menyelamatkannya maupun dari Dasamuka (sebutan lain Rahwana). Namun, setelah itu ia menggambarkan Sita yang baru saja merasakan sedikit kebebasan untuk selanjutnya merasakan kesendirian. Rama seakan tidak sabar untuk melihat Sita melompat dari atas menara. Menurutnya hanya dengan cara itu kesucian atau kemurnian Sita dapat kembali. Terungkap keinginan Sita untuk bebas pula dari sihir Rama. Sihir yang memaksanya tunduk pada keraguan Rama. Keraguan yang kemudian membawanya ke menara tinggi menghampiri kesendirian.

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. “Tetapi Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga yang membenihimu, apakah…” Sita yang hamil itu tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para dewa. (Benih-Sapardi Djoko Damono)

Benih karya Sapardi yang mengangkat fragmen Rama mempertanyakan kehamilan Sinta membingungkan karena sebuah pernyataan Rama bahwa Sinta adalah ‘benih’ alias anak dari Rahwana. Jika Rama sudah mengetahui hal ini mengapa ia harus menaruh curiga terhadap Rahwana yang sebenarnya adalah ayah Sita sendiri. Namun kecurigaan itu tetap muncul. Dalam pernyataannya itu Rama masih tetap berpikir bahwa Rahwana lah yang menghamili Sita.

Sita diungkapkan Sapardi diam seribu bahasa. Ia seakan menerima pernyataan Rama atau memang ia sudah mengetahui bahwa Rahwana adalah ayahnya. Sapardi menuntaskan puisi ini dalam ke’diam’an Sita yang mencoba berpikir apa kehendak dewa atas dirinya.

Momen Sita berada di tengah kobaran api digunakan Subagio Sastrowardoyo untuk menyampaikan pandangannya tentang Sita. Entah mengapa Subagio memberi judul Asmaradana yang sepengetahuan saya adalah tembang/macapat Jawa yang menceritakan kisah cinta sedih antara Anjasmara dan Damarwulan. Kisah cinta antara Rama dan Sinta dengan kisah cinta antara Anjasmara dan Damarwulan memang sama-sama mengalami akhir yang sedih. Keduanya tidak dapat merasakan akhir yang indah dari sebuah kisah cinta.

Ironi yang diciptakan Subagio mengejutkan dan mendobrak citra Sita selama ini. Dengan jelas Subagio menuliskan bahwa Sita menyukai kejantanan Rahwana. Hubungan intim penuh berahi pun tidak dapat dihindari. Tidak pernah ada rasa bersalah dan berdosa pada diri Sita karena telah melakukan hal itu. Hanya “sekadar menurutkan naluri”. Sebagai perempuan yang normal tentu saja hasrat bersetubuh ketika melihat laki-laki yang jantan muncul secara alami. Ini juga yang terjadi pada Sita saat melihat Rahwana. Sedikit menarik kaitannya dengan Hawa, ia pula yang tidak dapat menahan nafsu melihat buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat kemudian mengajak serta Adam memakannya1. Sifat perempuan seperti ini lah yang diangkat dalam puisi Asmaradana ini. Tanpa beban Sita melompat ke dalam api karena memang merasa sudah tidak suci lagi.

Pada geliat sekarat terlompat doaJangan juga hangus dalam apiSisa mimpi dari sanggama(Asmaradana-Subagio Sastrowardoyo)

Selanjutnya Subagio menutup puisi ini dengan doa singkat Sita yang sekarat dalam kobaran api. Doa yang masih meminta agar nikmat dari persetubuhannya dengan Rahwana tidak turut terbakar dalam kobaran api. Penggambaran Sita yang benar-benar berbeda telah dilakukan Subagio.

Soni Farid mempunyai gambaran tersendiri mengenai Sita. Serupa dengan Subagio, Soni mengungkapkan bahwa Sita jatuh cinta kepada Rahwana. Perbedaannya terletak pada cinta yang dirasakan Sita. Dalam Asmaradana jelas sekali bahwa cinta itu sekadar nafsu , sekadar pemuas birahi Sita sedangkan dalam Sita Obong cinta Sita adalah cinta yang tulus. Mengapa tulus? Bagaimana tidak seorang perempuan rela lompat ke dalam api hanya untuk cintanya. Sita terkapar di ranjang juga karena cintanya pada Rahwana.

Demikian senja turun dan Sita terkaparDi ranjang. Walau begitu jangan kau tanyaMengapa semua ini terjadi;Pada kobaran api yang menyala di tegalan,(Sita Obong-Soni Farid)

Sita menegaskan pula pada Rama agar jangan bertanya mengapa ia bisa jatuh cinta pada Rahwana. Soni menekankan cinta Sita kepada Rahwana pada bagian akhir dengan mengungkapkan ketidakmengertian Hanoman tentang bagaimana cinta dapat membuat orang rela mati karenanya (karena cinta).

Penyair Indonesia dapat dengan bebas mengubah atau melakukan modifikasi terhadap sebuah epos besar (dalam hal ini Ramayana) sesuai perspektif mereka masing-masing. Dengan begitu pembaca juga dapat dengan bebas pula menafsirkan dan mengintepretasi sebuah karya sastra.

Dewi Sinta, cantik, manja, dan membuat Rama dan Rahwana jatuh hati.


Sinta-Sinta abad duapuluh satu! Centil, cantik, sexy, dan gaya. Jadi pantas saja Rahwana dan Rama jatuh hati setengah mati....


CINTA RAHWANA HANYA UNTUK SINTA

Saat Rahwana menculik Dewi Sinta, perbuatannya ketahuan oleh Jatayu. Jatayu berusaha merebut Dewi Sinta, namun gagal.
Ini merupakan obrolan antar sahabat, saat sedang suntuk dan capek bekerja. Topiknya, sudah jelas mempertanyakan, apakah Rahwana itu raja yang jahat atau bukan? Bagi saya dan sejumlah sahabat, ini jelas merupakan dilema yang bisa menyebabkan saya dan beberapa sahabat saya dibenci orang. Sebabnya jelas, kita mencoba melihat Rahwana dari sisi dia sebagai manusia. Sebagian besar dari kita, umumnya melihat Rahwana sebagai tokoh yang jahat. Sedangkan Rama, sebagai orang baik yang dizalimi. Itu pandangan orang pada umumnya. Sedangkan dalam pandangan saya (dan beberapa sahabat saya lainnya), kita bisa bersikap begitu karena kita selalu menerima 'wejangan' dari orang tua kita, bahwa Rahwana itu orang jahat dan Rama orang baik. Kita bahkan menerima pandangan itu begitu saja, tanpa pernah mempertanyakan, apa saja kebaikan Rahwana dan apa pula keburukan Rama.

Dalam cerita Ramayana yang lazim disampaikan kepada kita, sesuai dengan pakem pewayangan, diceritakan bahwa Rahwana sangat ingin memperisteri Dewi Sinta. Padahal, Dewi Sinta saat itu sudah menjadi isteri Rama. Untuk itu, ia berupaya memperdaya Rama dan Laksmana, supaya bisa menculik Dewi Sinta. Penculikan itu berhasil sukses! Meskipun selama perjalanan Rahwana diserang oleh Jatayu, tetapi halangan itu bisa diatasinya, dan Dewi Sinta bisa diboyong Rahwana ke Alengkadiraja. Tiga tahun, Dewi Sinta ditawan di sebuah 'keputren', ditemani DewiTrijatha, adik Rahwana. Dan selama tiga tahun pula Rahwana selalu berusaha membujuk Dewi Sinta untuk bersedia menjadi permaisurinya. Segala upayanya untuk menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisuri, ditolak oleh Dewi Sinta secara halus. Jadi Rahwana sebenarnya dapat dikatakan gagal memperisteri Dewi Sinta. Bahkan, saat Rahwana agak kelewatan sikapnya, saat sedang membujuk Dewi Sinta, ia dihalangi oleh Dewi Trijatha, adiknya. Tentu saja Rahwana menjadi marah, dan Dewi Trijatha dikutuk oleh Rahwana. Kutukan Rahwana menyatakan, bahwa Dewi Trijatha akan mendapat jodoh jika sudah menjadi 'perawan tua' dan jodohnya adalah seorang wanara tua yang bertubuh pendek, jelek, dan buruk muka. Kutukan Rahwana ini, membuat Dewi Trijatha sedih berkepanjangan. Keinginan Rahwana untuk bisa menjadikan Dewi Sinta sebagai permaisurinya, telah mengorbankan banyak hal, termasuk kekuasaan, keluarga, sanak saudara, dan kerajaan Alengka. Rahwana, akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran melawan Rama yang dibantu ribuan pasukan wanara (kera). Ia merupakan orang terakhir dari Kerajaan Alengka yang mati di medan laga, melawan musuh. itulah ringkasan seluruh cerita tentang Rahwana yang sangat terkenal itu.

Sekarang cobalah kita pahami barang sedikit cerita kebalikannya, ditinjau dari sisi Rahwana. Cobalah untuk mendinginkan kepala dan tidak emosional sewaktu membaca cerita ini. Tentu saja, cerita ini merupakan cerita imajiner, jadi gunakanlah juga imajinasi anda saat membacanya.....

Bayangkalah, Alengkadiraja adalah sebuah negara adidaya, yang terkenal sangat kaya dan makmur. Kerajaan ini, politiknya sangat stabil, keamanan di seluruh wilayah Kerajaan Alengkadiraja sangat terkendali dan sangat aman. Rakyatnya demikian sejahtera, sehingga banyak orang yang berasal dari manca negara, datang dan akhirnya tinggal bermukim di Kerajaan Alengkadiraja. Menurut sejarahnya, Kerajaan Alengkadiraja juga tidak pernah memperlakukan kerajaan-kerajaan di sekitar wilayahnya sebagai negara jajahan. Alengkadiraja juga tidak pernah menyerbu negara lain. Kerajaan Alengkadiraja, memang bukan sebuah negara demokratis seperti Amerika. Kerajaan Alengkadiraja, memang merupakan sebuah negara monarki (kerajaan), yang dipimpin oleh seorang diktator luar biasa besar dan sangat luas kekuasaannya, yang berjuluk Prabu Rahwana. Kerajaan besar ini, bahkan tidak memerlukan adanya Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuat berbagai undang-undang. Segala aturan dan undang-undang, cukup ditangani oleh Rahwana yang dibantu sejumlah pejabat tinggi kepercayaannya. Sejak Kerajaan Alengkadiraja berdiri, sampai akhirnya tumbang oleh serbuan para 'monyet' yang membantu Rama, tidak pernah ada berita negatif sedikitpun yang menyatakan bahwa Rahwana pernah berbuat menzalimi rakyatnya. Begitu juga para pejabat tingginya, selalu mempunyai 'track record' yang baik dan tidak tercela. Bagi rakyat di Kerajaan Alengkadiraja, pemerintahan diktatorial nyatanya justru jauh lebih baik dari pada pemerintahan demokratis yang centang-perenang dan tak jelas juntrungannya. 

Rahwana sangat menginginkan Dewi Sinta sebagai permaisurinya. Sebagai manusia, itu merupakan hal yang wajar. Namanya juga naksir. Salahnya, Dewi Sinta sudah menjadi isteri orang lain. Bahwa Rahwana menculik Dewi Sinta, itu memang kesalahan fatal. Tapi bagaimana lagi? Namanya juga usaha! Apalagi dilandasi rasa cinta yang membara. Segala cara bisa ditempuh. Kalau nggak begitu, kan malah dipertanyakan orang, seberapa besar cintanya? Kan kata pepatah juga menyatakan bahwa 'cinta itu buta'. Bahkan cinta itu, mudah indikasinya. Orang yang benar-benar cinta, akan berada pada kondisi hilang akal dan hilang ingatan. Kalau masih bisa berpikir jernih dan tidak hilang akal, pastilah orang itu tidak benar-benar jatuh cinta. Mungkin hanya pura-pura jatuh cinta. Kalau tidak hilang ingatan (terhadap banyak hal), pastilah orang itu juga tidak jatuh cinta. Cobalah renungkan saat anda dulu jatuh cinta. Apakah benar anda tidak hilang akal dan hilang ingatan? Contohnya, saat anda jatuh cinta, bukankah anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat? Segala kecanggihan diri anda tiba-tiba lenyap begitu saja, saat berhadapan dan bertemu dengan wanita idaman anda. Saat anda jatuh cinta dulu, bukankah anda juga hilang ingatan? Lupa daratan, lupa makan, lupa tidur, dan bahkan lupa segalanya. Anda hanya bisa mengingat satu hal saja. Yaitu wanita idaman anda! Hal lainnya? Tentu saja anda lupakan. Ingatan anda tentang nasehat orang tua yang mengatakan bahwa hidup harus berhati-hati, juga bisa anda abaikan seketika. Anda tiba-tiba berubah menjadi manusia yang berani mati demi sang pujaan hati. Woooooo..... luar biasa! Jatuh cinta, ternyata bisa mengubah segalanya........

Begitu juga dengan Raja Rahwana yang julukan aslinya adalah 'King of Forest Blood', dari sebuah kerajaan adidaya yang sangat terkenal di seantero jagat maya dengan sebutan 'The Great Alengka Kingdom'. Rahwana, seorang 'manusia berdarah rimba raya' telah jatuh cinta! Ini merupakan suatu fenomena dan peristiwa yang sangat luar biasa yang amat sangat langka, yang diliput oleh semua stasiun televisi di seluruh dunia sebagai sebuah peristiwa besar! Ia telah dinobatkan menjadi 'the greatest man of the year', yang selalu ditayangkan dalam bentuk 'headline' di semua surat-kabar, majalah, harian lokal dan internasional, internet, stasiun televisi, stasiun radio dalam negeri dan manca negara.

Seorang Rahwana yang semula lebih dikenal sebagai penguasa sebuah kerajaan adidaya yang sangat jarang tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria yang berdandan necis dan 'dandy', dengan pakaian keluaran rumah mode terkenal, bergaya mode mutakhir, dengan potongan rambut yang sedang trendy. Semua orang jadi memperhatikan Rahwana yang sedang menjadi pokok pembicaraan di mana-mana. Bahkan sejumlah anak muda Alengkadiraja yang sebelumnya cenderung menjauhinya, tiba-tiba secara sangat antusias dan bersuka hati, membentuk sebuah organisasi komunitas sosial yang dinamakan 'Rahwana Fans Club'. Majalah mode manca negara yang sangat terkenal, lantas memuat foto-foto kegiatan sehari-hari Rahwana dan menobatkannya menjadi 'The man who give new inspiration to other peoples'. 

Jangan lupa, Rahwana memang sudah 'sugih' (kaya raya) dari sononya. Jadi, ia jelas bukan seorang koruptor. Saat pergi ke Istana Negara Alengkadiraja, ia mengendarai mobil sport merk Jaguar model terbaru. Pakai mobil Jepang? No way! Mobil bikinan Jepang kurang keren, katanya dalam suatu wawancara eksklusif dengan sejumlah wartawan. Tanpa sungkan ia juga bercerita, bahwa ia sekarang punya kebiasaan baru, yaitu selalu membuka semua jendela dan kap atas mobilnya, jika sedang melakukan perjalanan memakai mobil Jaguar-nya. Ia, selalu melambaikan tangan sambil menebar senyum gembira kepada seluruh rakyatnya yang selalu menantikannya di pinggir jalan, saat rombongan mobil kerajaan itu lewat di jalan protokol Kerajaan Alengkadiraja. Suasana itu, juga menjalar ke Istana Kenegaraan Alengkadiraja. Suasana istana yang semula terlihat angker, formal, resmi, dan kaku; lalu berubah menjadi sebuah istana yang menyenangkan, indah, ceria, selalu penuh bunga. 

Berbagai pagelaran wayang kulit, wayang wong, wayang klithik, musik keroncong, jaipongan, wayang golek, orkestra, band musik pop, musik klasik, jazz, rock, dan blues; lantas menjadi pagelaran yang secara rutin menghias pendhapa istana Alengkadiraja. Hanya musik kamar (chamber music) yang tetap tidak diijinkan Rahwana main di istana. "Musik kamar terlalu berisik, kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit. Saya bisa jadi 'budheg' (tuli)! Kan saya hanya menonton dengan beberapa sahabat. Jadi kurang siplah kalau dimainkan di dalam kamar yang sempit di istana," begitu kata Rahwana, seperti dikutip oleh sejumlah wartawan istana. 

Tetapi jika ada wartawan yang bertanya tentang Dewi Sinta yang menurut kabar angin, selentingan, dan gosip; telah diculik dan dijadikan tawanan jelita, Rahwana selalu diam terpaku dan selalu menjawab "no comment". Sangat nyata terlihat di air mukanya, betapa pertanyaan seperti itu telah melukai perasaannya. Menurut berita-berita yang santer dibocorkan oleh sejumlah pejabat istana Alengkadiraja, Rahwana akhir-akhir ini sering terlihat duduk termenung sendu, saat sedang sendirian di Istana Alengkadiraja. Meskipun masyarakat Alengkadiraja melihat Rahwana sebagai manusia yang sehari-hari terlihat gembira, penuh senyum, dan seringkali menyapa rakyatnya dengan tebaran senyumnya yang sangat khas, tetapi di balik itu semua ia ternyata menyimpan kesedihan luar biasa. Dan, justru karena Rahwana merupakan penguasa tertinggi di Kerajaan Alengkadiraja, maka tidak ada yang berani menanyakan kepadanya tentang apa yang telah membuatnya gundah dan bersedih. Banyak orang hanya menebak-nebak saja di dalam hati dan tidak pernah berani mengungkapkkannya secara terbuka, takut melukai hati orang yang menjadi pujaannya itu.

Diam-diam, tanpa terungkap di media massa, dan tanpa pernah dipublikasikan; ternyata banyak juga rakyat Alengkadiraja yang ikut merasa sedih atas apa yang sedang menimpa Rahwana, raja yang sangat dihormati rakyatnya itu. Pendapat mereka, umumnya terpecah menjadi dua. Sebagian mengatakan bahwa Rahwana sebagai seorang raja besar, tidak sepatutya menculik Dewi Sinta, meskipun ia sangat mencintainya. Tetapi, sebagian lagi, merasa bahwa seorang Rahwana adalah seorang laki-laki sejati, yang berani mengambil risiko apapun demi cinta matinya kepada Dewi Sinta, meskipun mereka juga tahu bahwa tindakan itu salah. Tetapi, secara umum, rakyat Alengkadiraja tetap berpendapat bahwa bagaimanapun juga, Rahwana adalah laki-laki sejati, yang menjadi dambaan setiap wanita. Ia dimimpikan oleh banyak wanita, karena keteguhan dan ketegaran sikapnya. Tidak banyak wanita Alengkadiraja yang mempunyai kekasih atau suami seperti Rahwana, yaitu jika sudah jatuh cinta, apapun rintangannya akan diterjang, apapun penghalangnya akan dilibas, dan apapun akan dilakukan demi cintanya kepada pujaan hatinya. Rahwana sebenarnya adalah seorang laki-laki ideal pujaan hati wanita.....

Tiga tahun sudah, Dewi Sinta disekap di dalam 'keputren' Alengkadiraja, ditemani Dewi Trijatha yang setia. Setiap hari, Rahwana selalu datang mengunjunginya dan dengan kata-kata yang selalu diusahakan diucapkan sehalus mungkin, selalu ditanyakannya kepada Dewi Sinta, apakah ia bersedia dipersunting dirinya dan dijadikan permaisuri, menjadi Ibu Negara Alengkadiraja. Dinyatakannya juga, bahwa ia hanya mempunyai satu cinta, dan cinta itu telah dipersembahkannya kepada  Dewi Sinta. Setiap kali Rahwana berhadapan dengan Dewi Sinta, ia seperti hilang akal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia merasa seakan semua kekuasaan yang dimilikinya menjadi sama sekali tidak berarti di mata Dewi Sinta. Rahwana selalu berkata, bahwa ia menculik Dewi Sinta karena rasa cintanya yang tiada tara. Untuk tindakannya itu, Rahwana selalu meminta maaf kepada Dewi Sinta. Ia juga selalu mengatakan kepada Dewi Sinta, bahwa ia bersedia berkorban apa saja, asalkan Dewi Sinta bersedia dimuliakan dan dipersunting menjadi permaisurinya. Namun, setiap kali ia bertanya kepada Dewi Sinta, Rahwana selalu mendapat jawaban menolak, yang membuat hatinya remuk redam. Tiap kali Rahwana mendapat jawaban penolakan seperti itu, setiap kali pula ia terdiam. Dan, perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan Dewi Sinta sendirian tanpa mengucapkan sepata katapun. Begitulah yang terjadi setiap kali dan setiap hari. Rahwana selalu menerima jawaban yang membuatnya merasa seakan dunia hendak kiamat. Tetapi, entah mengapa, tiap kali Rahwana selalu kembali memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang sama. Meskipun ia tahu benar, jawaban yang akan diterimanya akan selalu sama, yaitu berupa jawaban menolak. Tetapi, manusia hidup dari harapan dan mimpi. Selama harapan dan mimpi itu belum pudar, maka selama itu pula manusia bisa berharap bahwa mimpinya suatu ketika akan menjadi kenyataan. Karena itu pula, Rahwana selalu kembali menguatkan dirinya untuk selalu datang bertanya kepada Dewi Sinta. Meskipun ia sangat sadar, bahwa harga dirinya sebagai laki-laki, sebenarnya sudah hancur. Rahwana telah mengambil risiko mengorbankan harga dirinya, demi cintanya kepada Dewi Sinta. Tetapi Rahwana menganggap hal itu sebagai sebuah konsekuensi logis yang harus ditanggungnya. Dalam pandangannya, harga dirinya akan pulih secara perlahan-lahan, jika ia berhasil mempersunting Dewi Sinta, dan mempersembahkannya kepada rakyatnya untuk dimuliakan sebagai seorang Ibu Negara.

Rahwana bukanlah seorang penyair, yang bisa menulis puisi jika hatinya sedang gundah. Ia juga bukan seorang penyanyi, yang bisa membuat tembang balada jika hatinya sedang sedih. Ia juga bukan seorang sastrawan, yang bisa mencurahkan isi hatinya ke dalam bentuk karya sastra, saat ia memikirkan pujaan hatinya. Pada saat-saat seperti itu, Rahwana bahkan merasa sendirian, kesepian, dan seperti sama sekali tak berteman. Ia merasa sendirian di tengah keramaian dunia. Di tempat yang sangat ramai sekalipun, ia merasa tetap kesepian. Ia selalu memimpikan bisa bergandeng tangan dengan mesra, bercengkerama, berjalan berdua dengan Dewi Sinta, sambil menyapa lambaian tangan rakyatnya. Mimpi-mimpi itulah yang selalu datang setiap malam, dan membuat hatinya kuat untuk kembali menemui Dewi Sinta pada esok hari berikutnya.

Selama tiga tahun, Dewi Sinta hampir setiap hari bertemu dengan Rahwana. Selama itu pula, ia tidak pernah disentuh atau dijamah sekalipun oleh Rahwana. Meskipun ada rasa rindu yang menggebu-gebu kepada Rama, tetapi sebagai wanita dewasa Dewi Sinta juga sering mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya ia bersikap. Secara jujur Dewi Sinta juga mengakui di dalam hati (hal ini secara diam-diam juga sering diutarakan kepada Dewi Trijatha), bahwa Rahwana dipandang dari satu segi, memang telah melakukan kejahatan, yaitu menculik dirinya. Namun, dari segi lainnya, selama tiga tahun disekap itu, ia selalu mendapat perlakuan yang sangat baik dan sopan oleh Rahwana. Dari berita dan cerita yang diterimanya dari berbagai pihak secara sembunyi-sembunyi, Dewi Sinta juga mendengar berbagai kabar tentang Rahwana. Sebagian besar kabar yang diterimanya itu, menceritakan bahwa Rahwana telah berubah menjadi orang yang gembira, penuh senyum, dan bahkan suasana istana sudah sangat berubah. Semua berita tentang Rahwana, ternyata merupakan berita yang sangat positif. Dewi Sinta sebenarnya juga berpikir, bahwa jika Rahwana benar-benar orang jahat, maka pada hari pertama saat ia diculik, bisa saja ia langsung diperkosa dan ditinggalkan begitu saja oleh Rahwana. Tetapi kenyataannya, Dewi Sinta tidak pernah mengalami hal itu. Bahkan selama disekap di 'keputren' Alengkadiraja, disentuh atau dijamahpun tidak pernah dilakukan Rahwana.

Saat Rahwana berkunjung, ia selalu menyatakan cintanya dan menanyakan kesediaannya untuk dipersunting menjadi permaisuri. Dan saat ia mengatakan penolakannya, Dewi Sinta selalu melihat, betapa air muka Rahwana yang seketika berubah menjadi sendu. Setiap kali Dewi Sinta mengatakan penolakannya, setiap kali pula Rahwana terdiam tak bisa berkata-kata. Dan, akhirnya Rahwana selalu berjalan perlahan-lahan meninggalkannya sendirian. Ada perasaan galau bercampur kasihan pada diri Dewi Sinta, setiap kali Rahwana perlahan-lahan pergi meninggalkannya sendirian.

Dewi Sinta juga sering berpikir dan mempertanyakan kepada dirinya sendiri, tentang Rama kekasihnya. Ia juga sudah mendengar kabar yang diselundupkan dari Ayudia. Semakin lama, serpihan demi serpihan kabar dari Ayudia itu semakin lengkap. Sehingga akhirnya Dewi Sinta bisa mengumpulkan seluruh serpihan berita itu secara lengkap, sehingga Dewi Sinta akhirnya bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi selepas penculikan atas dirinya. Meskipun hanya selintas, Dewi Sinta juga sering memikirkan mengapa Rama kekasih hatinya itu, tidak juga datang menolongnya? Apa yang telah terjadi? 

Setelah tiga tahun ia tinggal di Alengkadiraja, Dewi Sinta juga seringkali berpikir, bagaimana seharusnya sikap seorang suami jika isterinya diculik. Di dalam benaknya, timbul sejumlah logika yang saling berbalikan. Secara logika, jika seorang laki-laki sangat mencintai isterinya, dan tiba-tiba isterinya diculik, maka yang yang dilakukannya adalah segera mengejar dan berusaha mencari isterinya. Tetapi dari berita-berita yang diterimanya, Rama ternyata tidak segera melakukan upaya mencari dirinya. Bukankah ia titisan Dewa Wisnu? Bukankah Rama juga sakti? Mengapa ia tak melakukan usaha apapun, saat isterinya diculik? Mengapa Rama justru mengutus 'agen rahasia' yang bernama Anoman untuk menemui dirinya? Mengapa perintah Rama kepada Anoman, adalah supaya mengabarkan bahwa Rama dalam keadaan baik-baik saja? Mengapa Anoman hanya disuruh menyerahkan sebuah cincin kepadanya? Mengapa Anoman tidak diperintahkan untuk 'menculik' Dewi Sinta dan membawanya kembali ke Ayudia? Berjuta pertanyaan bergaung berulang-ulang di dalam benak Dewi Sinta.

Meskipun Dewi Sinta tetap mencintai Rama, tetapi penantian yang begitu lama dan kesepian yang merajam hatinya setiap hari dan setiap malam, membuatnya akhirnya juga berpikir. Pikiran buruk itu, juga seringkali melintas di benaknya. Ia selalu berusaha menepis berbagai pikiran buruk itu. Tetapi, pikiran dan bayangan itu selalu saja datang sendiri setiap kali ia merenung. Sesekali ia sempat juga terpikir, bahwa Rama bukanlah laki-laki yang sejati. Bagaimana bisa seorang laki-laki sejati bisa membiarkan isterinya diculik selama tiga tahun dan ternyata ia tidak melakukan upaya apapun? Sesekali, muncul juga pikiran yang menyatakan bahwa Rama merupakan suami yang tidak bertanggung-jawab. Jika ia memang suami yang bertanggung-jawab, mengapa selama bertahun-tahun membiarkan saja isterinya disekap di keputren negara lain? Sesekali, muncul juga pikiran yang mempertanyakan sumpah dan janji Laksmana, yang didengarnya sangat jelas, saat membuat garis 'rajah kalacakra' pelindung, sambil mengucapkan sumpah, yang menyatakan akan selalu menjaga dan melindungi Dewi Sinta selama hayatnya.

Dewi Sinta juga manusia biasa. Ia juga wanita seperti layaknya wanita lainnya. Yang membedakannya hanya kedudukannya semata. Saat Rahwana datang menemuinya, sesekali sempat juga ia memperhatikan tubuh Rahwana yang tinggi besar, gempal, berotot, dan atletis. Bahkan tubuh Rahwana jauh lebih tegap dari pada Rama suaminya. Rahwana, jelas jauh lebih 'macho' dan tentu bisa membuat setiap wanita gandrung dan mabuk kepayang. Sebagai seorang wanita muda yang sudah sekian lama tak tersentuh laki-laki. Dewi Sinta beberapa kali juga sempat merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdegup keras tak terkendali. Bulu kuduknya seringkali berdiri meremang, saat membayangkan tubuh Rahwana menyentuh dirinya. Bukan karena takut, tetapi karena terbuai oleh bayangan indah yang tiba-tiba merangsek ke dalam benaknya. Keringat dinginnya mengucur begitu saja di seluruh permukaan tubuhnya. Tubuhnya, tiba-tiba berubah menjadi panas dan seketika otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada gejolak gairah yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dikendalikannya. Badannya bergetar hebat, lidahnya terasa menjadi kelu dan sukar untuk berkata-kata. Jari-jari tangannya yang lentik, tiba-tiba menjadi gemetar. Tubuhnya lemas dan seakan ia tidak mempunyai kekuatan untuk menggerakkannya. Hatinya sejenak menjadi resah dan gelisah. Saat ia menjawab pertanyaan Rahwana, kalimat yang terlontar dari mulut mungilnya begitu bergetar, sehingga saat mengucapkannya menjadi terbata-bata. Untunglah, Rahwana menganggap kalimat yang diucapkan terbata-bata itu, sebagai ucapan seorang yang sedang dilanda ketakutan hebat. Andai saja Rahwana tahu apa yang sedang dirasakannya, mungkin ceritanya akan menjadi lain.....

Malam-malam yang dingin, sepi, dan hanya ditingkah oleh suara cengkerik dan binatang malam, membuat Dewi Sinta sering melamun kesepian. Dalam tidurnya, semakin lama semakin sering ia memimpikan Rahwana; dan semakin lama semakin berkurang pula mimpi-mimpi tentang Rama. Mimpi-mimpi 'indah' itu selalu datang sendiri tanpa diminta. Diam-diam Dewi Sinta telah jatuh cinta kepada Rahwana! Itulah kenyataan yang dialaminya. Ada perasaan galau, sewaktu memikirkan betapa Rahwana sangat mencintai dirinya, sementara Rama yang dicintainya justru tak pernah ada kabar beritanya, seakan Rama telah membiarkan dan menelantarkan dirinya. Namun, otak dan perasaan seringkali memang tidak sejalan. Di malam-malam yang sepi, Dewi Sinta sering menangis, karena merasa telah berdosa. Ia merasa telah membagi dua cintanya. Di dalam hatinya, diam-diam telah terukir nama Rahwana sebagai seseorang laki-laki yang selalu dimimpikannya, tetapi akan pernah tidak bisa dimilikinya.......

TEJAMANTRI, SANG KONSULTAN



Dalam dunia pewayangan, kita mengenal adanya sejumlah 'panakawan', yang secara umum artinya 'sahabat dekat'. Ini merupakan sejumlah tokoh wayang, yang umumnya berperan sebagai penasehat, dan sekaligus juga sahabat bagi tokoh yang diikutinya. Sejumlah tokoh panakwan ini, bolehlah kita katakan sebagai 'tokoh abadi', karena di setiap cerita wayang yang manapun, mereka selalu ada. Misalnya, tokoh Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Sarawita. Tokoh lain yang juga abadi, adalah denawa Cakil, raksasa Rambut Geni, dan beberapa tokoh lainnya. Mereka ini, selalu muncul di dalam pagelaran wayang yang manapun. Dalam kehidupan kita sehari-hari, nyatanya kita lebih sering memperhatikan tokoh-tokoh panakawan yang empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Lalu, juga dengan dua tokoh wanita, yaitu Limbuk dan Cangik. Tetapi bagaimana dengan tokoh Togog dan Sarawita? Karena itulah, maka kali ini kita akan sedikit berkenalan dengan dengan tokoh Togog dan Sarawita, yang sebenarnya sama terkenalnya dengan tokoh-tokoh panakawan lainnya.

Tokoh Togog (sering juga disebut 'Tejamantri' atau 'Wijamantri') dan Sarawita (sering disebut 'Mbilung'), seringkali dipandang sebagai tokoh 'panakawan jahat', hanya karena mereka berdua itu selalu berada di pihak musuh, raja jahat, atau tokoh-tokoh yang berperangai buruk. Ini merupakan sebuah pandangan umum, yang sangat lazim dinyatakan orang tentang kedua tokoh ini. Tetapi apakah benar demikian? 

Togog khususnya, sebenarnya sama dengan Semar, mereka berdua adalah 'dewa yang turun ke bumi'. Masing-masing mempunyai tugas dan peran khusus. Semar, menjadi penasehat para ksatria pembela kebenaran. Sedangkan Togog? Apakah ia dapat dikatakan sebagai penasehat pada ksatria pembela kejahatan? Menurut saya, di sinilah letak kesalahan-pahaman kita dalam memandang peran dan fungsi mereka. Menurut saya, Baik Semar maupun Togog, keduanya merupakan penasehat para ksatria. Jika kita mencermati dialog-dialog keduanya dengan para ksatria yang diikutinya, maka semuanya akan segera menjadi jelas. Keduanya selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik dan berguna. Bedanya, keduanya berdiri pada pihak yang berseberangan.

Jika kita memakai kondisi jaman sekarang sebagai analoginya, maka tokoh Togog, adalah 'penasehat agung' atau mungkin juga bisa kita sebut sebagai seorang 'konsultan yang bekerja di luar negeri'. Sebaliknya, Semar adalah 'penasehat agung' yang bekerja sebagai 'konsultan yang bekerja di dalam negeri'. Secara logika, di seluruh dunia manapun, dengan tidak memandang apakah dia konsultan asing atau dalam negeri, semestinya tidak ada konsultan yang memberikan 'nasehat buruk'. Semua konsultan pastilah akan memberikan nasehat yang baik dan berguna bagi orang yang mempekerjakannya. Paling tidak, ia memperkirakan bahwa nasehatnya itu akan berguna bagi orang yang diikutinya. Kalaupun nasehat-nasehat mereka yang jelas baik itu tidak diperhatikan, dianggap seperti angin lalu, atau diabaikan oleh atasan masing-masing, maka hal itu berada di luar tanggung-jawab mereka.

Dalam kasus tokoh Togog atau Tejamantri, sebagai seorang konsultan yang 'bonafide', apalagi sebagai konsultan bagi pihak asing, maka pantaslah jika ia bertubuh tambun, berkepala botak, pandai berbicara, dan pandai pula berdebat. Memang begitulah seharusnya. Paling tidak, dipandang dari segi 'citra' yang diperlukan supaya pendapat dan nasehatnya diperhatikan. Ia, bahkan selalu memakai tata-krama yang baik, berbahasa baik, santun, serta didukung oleh segudang ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Penampilan Togog yang 'modist', juga penting untuk diperhatikan. Bukankah dia bekerja di negeri seberang? Nah, untuk memperkuat citranya sebagai penasehat yang sangat ahli, ia memerlukan seorang 'asisten' atau katakanlah seorang 'staf ahli'. Di sinilah letak peran dan fungsi Sarawita. Supaya nasehatnya menjadi semakin afdol, maka staf ahli atau asistennya, haruslah memakai bahasa asing. Dalam hal ini, Sarawita selalu diperankan berbahasa Melayu dan sama sekali tidak berbahasa Jawa. Fungsi utama Sarawita, adalah membenarkan dan mendukung berbagai argumentasi yang ditampilkan Togog. 

Cobalah perhatikan baik-baik, bagaimana intonasi suara dan argumentasi yang disampaikan Togog dalam berbagai dialog 'internasional'. Ia tidak pernah marah, tidak pernah tersinggung, dan bahkan tidak pernah langsung menyanggah pendapat orang lain (terutama orang yang diikutinya). Ia, selalu memikirkan lebih dahulu, dan dengan kalimat yang jelas, iramanya lambat, serta berkata-kata dengan nada rendah dan berat; saat menyatakan pendapatnya. Ia bahkan tidak pernah berkata-kata dengan kalimat yang dinyatakan secara cepat dan bernada tinggi. Baginya, semua masalah pasti bisa diatasi secara baik. Togog, adalah tipikal orang yang selalu berpikir positif. Bahkan saat atasannya menyatakan kepadanya tentang niat dan gagasan jahatnya, ia selalu memberikan wawasan yang tetap berkutub positif, dan sama sekali tidak pernah terbawa arus menjadi berpendapat negatif. Meskipun lawan bicaranya berbicara dengan berteriak-teriak, memaki, serta memakai rangkaian kalimat bernada tinggi yang disampaikan secara sangat cepat (karena sangat emosional), Togog tetap berperi-laku santun, tetap memegang tata-krama, dan berbahasa halus. Bahkan nada bicaranya tidak ikut-ikut menjadi bernada tinggi. Ia tetap menggunakan nada yang rendah, dengan kecepatan bicara yang relatif lambat, dan suara yang berat.

Jika dalam suatu dialog, ternyata Sarawita sang asisten membuat kesalahan. Misalnya, salah ucap atau salah berargumentasi, maka biasanya Togog dengan sabar dan bijak, akan mengingatkan Sarawita. Jangan lupa, Sarawita adalah tokoh yang seringkali memberikan reaksi terlalu cepat dan dengan nada bicara yang juga cepat dan agak terburu-buru. Karenanya, bisa saja ia salah ucap, karena belum sempat memikirkan dalam-dalam sudah mengucapkan apa yang dirasakannya. Ia juga terkenal sebagai tokoh yang seringkali terlampau cepat memberikan tanggapan dan persetujuan kepada boss-nya (Togog), sebelum Togog menyelesaikan seluruh pembicaraannya. Nah, di sinilah letak kesulitan seorang Togog. Ia memerlukan seorang staf ahli, tetapi Sarawita seringkali malah mempersulit keadaan, dengan berkata-kata sebelum Togog menyelesaikan kalimatnya. Maksudnya sih baik, tetapi maksud yang baik, jika diungkapkan terlalu terburu-buru, seringkali dampaknya menjadi buruk. Dari pasangan Togog dan Sarawita inipun, kita bisa belajar banyak. Misalnya, belajar tentang perlunya kompak dalam menyampaikan pendapat, perlunya belajar menyatukan pandangan, perlunya belajar saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan, perlunya saling berterus terang di antara anggauta tim, dan perlunya belajar untuk selalu berdamai dan saling bertenggang-rasa dengan kawan seiring (teman sejawat).

Seperti saya sudah sampaikan, Togog adalah tokoh baik dan bijak, ia penasehat yang baik. Kebetulan saja ia berdiri di pihak asing atau musuh. Setiap kali terjadi dialog dengan atasanya yang mempunyai niat atau gagasan jahat, ia selalu berusaha untuk menasehati dan memberikan wawasan tentang berbagai risiko yang harus ditanggung, jika niat dan gagasan jahat itu dilaksanakan. Jika perlu, ia akan berusaha membujuk, supaya niat dan gagasan jahat itu dibatalkan saja. Ringkasnya, ia selalu berusaha, supaya junjungannya itu berubah menjadi orang baik. Namun, namanya juga orang jahat. Mana ada yang mau dinasehati supaya berubah menjadi orang baik? Dalam kasus seperti ini, jelaslah Togog tidak pernah goyah dan tidak pernah berputus asa untuk selalu menasehati atasannya itu, supaya berubah dan menjadi berperi-laku baik. Bahkan, jika ia dimaki-maki oleh atasannya, karena sikap dan pendapatnya itu seolah-olah seperti ingin menggagalkan gagasan dan niat jahat atasannya, maka Togog dengan kepala dingin tetap tidak bergeming. Bahkan ia tidak lantas membalas memaki, membuat isu, atau melawan kata-kata yang diucapkan atasannya. Ia lebih suka mendengarkan lebih dahulu selama beberapa saat, lalu menyatakan pendapatnya dengan bahasa yang santun, bernada rendah, dan berimana lambat. Suatu upaya yang sangat bijak, untuk meredam kemarahan atasannya.

Belajar dari semua hal ini, maka jelaslah bahwa kita saat ini sebenarnya sangat memerlukan tokoh-tokoh seperti Togog, yang bekerja di kalangan para ksatria yang berwatak jahat. Kita memerlukan banyak tokoh Togog, karena justru negara kita sekarang ini penuh dengan para ksatria berwatak jahat, candhala, culika, dan tidak tahu malu; yang tidak saja mempermalukan diri sendiri, tetapi juga mempermalukan negara dengan segala kelakuan, sifat, dan tindak-tanduknya. Kita sangat kekurangan tokoh-tokoh seperti Togog, yang tidak pernah berhenti menasehati para ksatria jahat itu. Kita bahkan cenderung melupakan, bahwa tokoh seperti Togog justru sangat diperlukan di dalam kehidupan nyata kita. Sebaliknya, kita sudah amat sangat mengenal tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong; yang bekerja pada kelompok ksatria yang berperi-laku dan berwatak baik. Tetapi harap dicatat, bahwa dalam kehidupan nyata, gagasan dan niat buruk; bisa saja timbul bahkan tidak saja dari para ksatria yang berperi-laku dan berwatak jahat, tetapi juga dari kalangan para ksatria yang sehari-harinya dikenal berperi-laku dan berwatak baik. Misalnya, saat mereka lupa diri, khilaf, atau berubah menjadi membutakan diri; karena sedang berkuasa atau sedang berharta.

Maka sejenak kita perlu merenungkan, dengan berdiam sesaat dan mengheningkan cipta, karsa, dan rasa kita. Berusaha merasakan kembali, apakah kita sudah menjadi orang baik, atau masih juga menjadi orang buruk. Masihkah kita ingat kepada Sang Penguasa Jagat Raya, yang menguasai hidup dan mati kita, atau kita mengacuhkan dan sudah melupakan-Nya. Jika kita memang sedang sial atau memang meniatkan diri, dan kebetulan menjadi ksatria jahat, maka ingatlah bahwa kita memerlukan pendamping dan penasehat seperti 'Togog', sang konsultan, yang akan selalu mengingatkan dan memberikan nasehat kepada kita, untuk selalu kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan, kita selalu bertemu dengan tokoh, orang, atau sahabat; yang bersedia berperan sebagai 'Togog' bagi kita. Semoga kita menemukannya....