Rabu, 10 Juli 2013

TEJAMANTRI, SANG KONSULTAN



Dalam dunia pewayangan, kita mengenal adanya sejumlah 'panakawan', yang secara umum artinya 'sahabat dekat'. Ini merupakan sejumlah tokoh wayang, yang umumnya berperan sebagai penasehat, dan sekaligus juga sahabat bagi tokoh yang diikutinya. Sejumlah tokoh panakwan ini, bolehlah kita katakan sebagai 'tokoh abadi', karena di setiap cerita wayang yang manapun, mereka selalu ada. Misalnya, tokoh Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Sarawita. Tokoh lain yang juga abadi, adalah denawa Cakil, raksasa Rambut Geni, dan beberapa tokoh lainnya. Mereka ini, selalu muncul di dalam pagelaran wayang yang manapun. Dalam kehidupan kita sehari-hari, nyatanya kita lebih sering memperhatikan tokoh-tokoh panakawan yang empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Lalu, juga dengan dua tokoh wanita, yaitu Limbuk dan Cangik. Tetapi bagaimana dengan tokoh Togog dan Sarawita? Karena itulah, maka kali ini kita akan sedikit berkenalan dengan dengan tokoh Togog dan Sarawita, yang sebenarnya sama terkenalnya dengan tokoh-tokoh panakawan lainnya.

Tokoh Togog (sering juga disebut 'Tejamantri' atau 'Wijamantri') dan Sarawita (sering disebut 'Mbilung'), seringkali dipandang sebagai tokoh 'panakawan jahat', hanya karena mereka berdua itu selalu berada di pihak musuh, raja jahat, atau tokoh-tokoh yang berperangai buruk. Ini merupakan sebuah pandangan umum, yang sangat lazim dinyatakan orang tentang kedua tokoh ini. Tetapi apakah benar demikian? 

Togog khususnya, sebenarnya sama dengan Semar, mereka berdua adalah 'dewa yang turun ke bumi'. Masing-masing mempunyai tugas dan peran khusus. Semar, menjadi penasehat para ksatria pembela kebenaran. Sedangkan Togog? Apakah ia dapat dikatakan sebagai penasehat pada ksatria pembela kejahatan? Menurut saya, di sinilah letak kesalahan-pahaman kita dalam memandang peran dan fungsi mereka. Menurut saya, Baik Semar maupun Togog, keduanya merupakan penasehat para ksatria. Jika kita mencermati dialog-dialog keduanya dengan para ksatria yang diikutinya, maka semuanya akan segera menjadi jelas. Keduanya selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik dan berguna. Bedanya, keduanya berdiri pada pihak yang berseberangan.

Jika kita memakai kondisi jaman sekarang sebagai analoginya, maka tokoh Togog, adalah 'penasehat agung' atau mungkin juga bisa kita sebut sebagai seorang 'konsultan yang bekerja di luar negeri'. Sebaliknya, Semar adalah 'penasehat agung' yang bekerja sebagai 'konsultan yang bekerja di dalam negeri'. Secara logika, di seluruh dunia manapun, dengan tidak memandang apakah dia konsultan asing atau dalam negeri, semestinya tidak ada konsultan yang memberikan 'nasehat buruk'. Semua konsultan pastilah akan memberikan nasehat yang baik dan berguna bagi orang yang mempekerjakannya. Paling tidak, ia memperkirakan bahwa nasehatnya itu akan berguna bagi orang yang diikutinya. Kalaupun nasehat-nasehat mereka yang jelas baik itu tidak diperhatikan, dianggap seperti angin lalu, atau diabaikan oleh atasan masing-masing, maka hal itu berada di luar tanggung-jawab mereka.

Dalam kasus tokoh Togog atau Tejamantri, sebagai seorang konsultan yang 'bonafide', apalagi sebagai konsultan bagi pihak asing, maka pantaslah jika ia bertubuh tambun, berkepala botak, pandai berbicara, dan pandai pula berdebat. Memang begitulah seharusnya. Paling tidak, dipandang dari segi 'citra' yang diperlukan supaya pendapat dan nasehatnya diperhatikan. Ia, bahkan selalu memakai tata-krama yang baik, berbahasa baik, santun, serta didukung oleh segudang ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Penampilan Togog yang 'modist', juga penting untuk diperhatikan. Bukankah dia bekerja di negeri seberang? Nah, untuk memperkuat citranya sebagai penasehat yang sangat ahli, ia memerlukan seorang 'asisten' atau katakanlah seorang 'staf ahli'. Di sinilah letak peran dan fungsi Sarawita. Supaya nasehatnya menjadi semakin afdol, maka staf ahli atau asistennya, haruslah memakai bahasa asing. Dalam hal ini, Sarawita selalu diperankan berbahasa Melayu dan sama sekali tidak berbahasa Jawa. Fungsi utama Sarawita, adalah membenarkan dan mendukung berbagai argumentasi yang ditampilkan Togog. 

Cobalah perhatikan baik-baik, bagaimana intonasi suara dan argumentasi yang disampaikan Togog dalam berbagai dialog 'internasional'. Ia tidak pernah marah, tidak pernah tersinggung, dan bahkan tidak pernah langsung menyanggah pendapat orang lain (terutama orang yang diikutinya). Ia, selalu memikirkan lebih dahulu, dan dengan kalimat yang jelas, iramanya lambat, serta berkata-kata dengan nada rendah dan berat; saat menyatakan pendapatnya. Ia bahkan tidak pernah berkata-kata dengan kalimat yang dinyatakan secara cepat dan bernada tinggi. Baginya, semua masalah pasti bisa diatasi secara baik. Togog, adalah tipikal orang yang selalu berpikir positif. Bahkan saat atasannya menyatakan kepadanya tentang niat dan gagasan jahatnya, ia selalu memberikan wawasan yang tetap berkutub positif, dan sama sekali tidak pernah terbawa arus menjadi berpendapat negatif. Meskipun lawan bicaranya berbicara dengan berteriak-teriak, memaki, serta memakai rangkaian kalimat bernada tinggi yang disampaikan secara sangat cepat (karena sangat emosional), Togog tetap berperi-laku santun, tetap memegang tata-krama, dan berbahasa halus. Bahkan nada bicaranya tidak ikut-ikut menjadi bernada tinggi. Ia tetap menggunakan nada yang rendah, dengan kecepatan bicara yang relatif lambat, dan suara yang berat.

Jika dalam suatu dialog, ternyata Sarawita sang asisten membuat kesalahan. Misalnya, salah ucap atau salah berargumentasi, maka biasanya Togog dengan sabar dan bijak, akan mengingatkan Sarawita. Jangan lupa, Sarawita adalah tokoh yang seringkali memberikan reaksi terlalu cepat dan dengan nada bicara yang juga cepat dan agak terburu-buru. Karenanya, bisa saja ia salah ucap, karena belum sempat memikirkan dalam-dalam sudah mengucapkan apa yang dirasakannya. Ia juga terkenal sebagai tokoh yang seringkali terlampau cepat memberikan tanggapan dan persetujuan kepada boss-nya (Togog), sebelum Togog menyelesaikan seluruh pembicaraannya. Nah, di sinilah letak kesulitan seorang Togog. Ia memerlukan seorang staf ahli, tetapi Sarawita seringkali malah mempersulit keadaan, dengan berkata-kata sebelum Togog menyelesaikan kalimatnya. Maksudnya sih baik, tetapi maksud yang baik, jika diungkapkan terlalu terburu-buru, seringkali dampaknya menjadi buruk. Dari pasangan Togog dan Sarawita inipun, kita bisa belajar banyak. Misalnya, belajar tentang perlunya kompak dalam menyampaikan pendapat, perlunya belajar menyatukan pandangan, perlunya belajar saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan, perlunya saling berterus terang di antara anggauta tim, dan perlunya belajar untuk selalu berdamai dan saling bertenggang-rasa dengan kawan seiring (teman sejawat).

Seperti saya sudah sampaikan, Togog adalah tokoh baik dan bijak, ia penasehat yang baik. Kebetulan saja ia berdiri di pihak asing atau musuh. Setiap kali terjadi dialog dengan atasanya yang mempunyai niat atau gagasan jahat, ia selalu berusaha untuk menasehati dan memberikan wawasan tentang berbagai risiko yang harus ditanggung, jika niat dan gagasan jahat itu dilaksanakan. Jika perlu, ia akan berusaha membujuk, supaya niat dan gagasan jahat itu dibatalkan saja. Ringkasnya, ia selalu berusaha, supaya junjungannya itu berubah menjadi orang baik. Namun, namanya juga orang jahat. Mana ada yang mau dinasehati supaya berubah menjadi orang baik? Dalam kasus seperti ini, jelaslah Togog tidak pernah goyah dan tidak pernah berputus asa untuk selalu menasehati atasannya itu, supaya berubah dan menjadi berperi-laku baik. Bahkan, jika ia dimaki-maki oleh atasannya, karena sikap dan pendapatnya itu seolah-olah seperti ingin menggagalkan gagasan dan niat jahat atasannya, maka Togog dengan kepala dingin tetap tidak bergeming. Bahkan ia tidak lantas membalas memaki, membuat isu, atau melawan kata-kata yang diucapkan atasannya. Ia lebih suka mendengarkan lebih dahulu selama beberapa saat, lalu menyatakan pendapatnya dengan bahasa yang santun, bernada rendah, dan berimana lambat. Suatu upaya yang sangat bijak, untuk meredam kemarahan atasannya.

Belajar dari semua hal ini, maka jelaslah bahwa kita saat ini sebenarnya sangat memerlukan tokoh-tokoh seperti Togog, yang bekerja di kalangan para ksatria yang berwatak jahat. Kita memerlukan banyak tokoh Togog, karena justru negara kita sekarang ini penuh dengan para ksatria berwatak jahat, candhala, culika, dan tidak tahu malu; yang tidak saja mempermalukan diri sendiri, tetapi juga mempermalukan negara dengan segala kelakuan, sifat, dan tindak-tanduknya. Kita sangat kekurangan tokoh-tokoh seperti Togog, yang tidak pernah berhenti menasehati para ksatria jahat itu. Kita bahkan cenderung melupakan, bahwa tokoh seperti Togog justru sangat diperlukan di dalam kehidupan nyata kita. Sebaliknya, kita sudah amat sangat mengenal tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong; yang bekerja pada kelompok ksatria yang berperi-laku dan berwatak baik. Tetapi harap dicatat, bahwa dalam kehidupan nyata, gagasan dan niat buruk; bisa saja timbul bahkan tidak saja dari para ksatria yang berperi-laku dan berwatak jahat, tetapi juga dari kalangan para ksatria yang sehari-harinya dikenal berperi-laku dan berwatak baik. Misalnya, saat mereka lupa diri, khilaf, atau berubah menjadi membutakan diri; karena sedang berkuasa atau sedang berharta.

Maka sejenak kita perlu merenungkan, dengan berdiam sesaat dan mengheningkan cipta, karsa, dan rasa kita. Berusaha merasakan kembali, apakah kita sudah menjadi orang baik, atau masih juga menjadi orang buruk. Masihkah kita ingat kepada Sang Penguasa Jagat Raya, yang menguasai hidup dan mati kita, atau kita mengacuhkan dan sudah melupakan-Nya. Jika kita memang sedang sial atau memang meniatkan diri, dan kebetulan menjadi ksatria jahat, maka ingatlah bahwa kita memerlukan pendamping dan penasehat seperti 'Togog', sang konsultan, yang akan selalu mengingatkan dan memberikan nasehat kepada kita, untuk selalu kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan, kita selalu bertemu dengan tokoh, orang, atau sahabat; yang bersedia berperan sebagai 'Togog' bagi kita. Semoga kita menemukannya....